Minggu, 13 November 2011

Surat dari Hati Seorang Adik Kepada Kakaknya yang Seorang Aktivis Kampus


Orang bilang kakakku seorang aktivis, kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Ia dikenal oleh semua orang.
Orang bilang kakakku seorang aktivis, dengan segudang kesibukan yang disebutnya kepentingan kampus.
Orang bilang kakakku seorang aktivis, tapi bolehkah aku sampaikan padamu kak?  “Ibu bilang engkau hanya seorang putri kecil ibu yang lugu.”

Kakakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu kak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibu kita adalah sesuatu yang sia-sia, kak..? Sungguh, seperti engkau tahu,  setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu kak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.. Hampir setiap hari selalu kita habiskan waktu bersama adik-adikmu yang lain, sampai saat sebelum engkau mencapai kesuksesanmu saat ini..

Kakakku, kita memang berada disatu atap kak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibu, bersenda gurau dengan adik-adikmu. Dari raut wajah Ibu, masih nampak jelas teringat oleh ibu kenangan-kenangan manis ketika engkau masih ada didekapannya, dipelukannya, disisi kami..

Tapi kini dimanakah rumahmu, kak..? Kami tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari kami tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi harusnya engkau tahu bahwa ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu..  Ah, lagi-lagi engkau harus tahu kalau ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu.. Atau jangankan untuk tersenyum, sekadar untuk mengalihkan pandangan pada ibu saja mungkin jarang engkau lakukan.. Setiba dirumah dari kampusmu, engkau segera masuk kamar, menyalakan laptopmu, untuk sibuk dengan duniamu sendiri.. Ketika engkau ditanyai mengenai kegiatanmu, mengenai keadaanmu oleh nenek atau ibu, mengapa engkau tak pernah berlemah lembut dalam menjawabnya, Kak..? Ketika aku memberitahumu untuk menjawab dengan baik, engkau marah. Dengan tanpa senyum dan muka yang berlipat-lipat engkau bilang bahwa dirimu memang seperti itu. Benarkah itu, kak? Apa engkau seperti itu ketika ditanya temanmu? Apa engkau seperti itu ketika ditanya dosenmu? Apa engkau menjawab mereka seperti halnya yang engkau lakukan pada nenek dan ibu, kak..? Apa engkau menjawab mereka dengan wajah yang sama seperti engkau tampakkan pada nenek dan ibu, kak..? Apakah kegiatanmu membentukmu seperti itu, kak..? Apa kegiatanmu yang mengajarkanmu seperti itu, kak..?

Padahal, andai kau tahu kak, tak terpikirkankah olehmu bahwa ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau kak, tapi bukankah dia ibu kita, wanita yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimnya..?

Kakakku, kami mendengar engkau sedang begitu sibuk kak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader kegiatanmu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu.. Engkau tahu,, kami bangga padamu,, amat bangga padamu kak. Namun, apakah engkau tahu, sebagian hati ibu mulai bertanya kak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibu yang selalu menantikanmu? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu, mengkawatirkan kami seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan kegiatanmu..? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu kak..? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari seabrek kegiatanmu kak..?

Kakakku, aku sungguh sedih melihat sikapmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang kak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan.. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga kak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga kak..?

Kakakku, aku mencoba mengetahui semua kegiatanmu. Kegiatan sang aktivis. Jadwalmu begitu padat kak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting, sibuk meng-apply beberapa dokumen untuk pergi megikuti kegiatan-kegiatan di luar negeri. Dalam agendamu, ada sekumpulan kegiatanmu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Aku berharap ada agendamu untuk menghabiskan waktu bersama kami,,

Dan kurasa, ternyata memang tak ada kak, tak ada agenda untuk bersama ibu kita yang mulai renta, bersama adik-adikmu yang mulai tumbuh dewasa, bersama kakek nenek yang telah merawat dan membuatmu besar dan sukses seperti ini. Tak ada cita-cita untuk kami. Tak terlintaskah dibenakmu untuk mengajak kami ikut dalam kegiatanmu..? Masih teringat dengan jelas ketika aku memintamu untuk mengajakku dalam kegiatanmu,, tapi apa jawabmu..?? Engkau membuatku menangis mendengar jawabanmu.. Padahal kak, andai engkau tahu aku juga ingin berkembang denganmu, melangkah beriringan denganmu.. Apakah engkau tak ingin adik-adikmu sukses sepertimu..?? Engkau terlihat seperti ingin maju sendiri, tanpa kami.. Dan andaikan engkau tahu,, sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putri kecilnya. Lalu,, bagaimana denganmu, kak..??

Kalau boleh kami meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang yang aktif, cerdas, pandai, periang, supel.. Lalu,, adakah dirimu yang seperti itu engkau tampakkan dihadapan kami..?? Mereka bilang engkau organisatoris yang profesional.. Boleh aku bertanya kak, dimana profesionalitasmu untuk ibu..? Dimana profesionalitasmu untuk adik-adikmu, untuk keluargamu..? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat, kak..?

Ketika kita tak berada dibawah satu atap, tahukah engkau kami selalu memikirkanmu, selalu bertanya sedang apa engkau, apa engkau baik-baik saja..? Sering Ibu terjaga ditengah malam, membangunkanku untuk menanyakanmu, dan kunyalakan laptopku ketika SMS dariku tak ada balasanmu, ketika belasan panggilan ketelepon genggammu tak ada jawaban. Terlalu sibukkah engkau sampai tak ada waktu membalas SMS itu? Mengangkat telepon Ibu pun tak engkau lakukan. Tak pernahkah engkau mencoba menghubungi kami kembali ketika aktifitasmu selesai..? Sesibukkah itu engkau bergembira dengan kegiatanmu, sedang kami disini mengkhawatirkanmu.. Kulihat di jejaring sosial, ada dirimu yang sedang online. Namun apa daya, aku memanggilmu, tapi tak pernah kau hiraukan. Kemana engkau..? Tak bertanya-tanyakah engkau mengapa aku memanggilmu..? Kami coba mengomentari semua yang terbaru dari jejaring sosialmu, yang kami lihat selalu kau balas komentar teman-temanmu, tapi tak satupun kau balas komentar kami walau hanya basa-basi.. Yang membuatku bertanya-bertanya, mengapa orang yang hanya menyukai fotomu, kau balas dengan mention darimu.? Sedangkan tak ada satupun mention untuk kami, adik-adikmu..Apakah engkau juga begitu terhadap temanmu, kak? Rekan kuliahmu? Rekan organisasimu? Teman kegiatanmu? Apakah kami tak lebih berarti dibanding mereka, kak..?

Ketika engkau pulang kerumah dengan wajah kusutmu, tak pernahkah engkau berfikir untuk pulang kerumah dengan senyuman, walau engkau lelah dengan kegiatanmu..? Engkau langsung tidur pulas setelah melepas semua bawaanmu, tak terfikirkah engkau untuk berkumpul bersama dan menceritakan kegiatanmu hari itu walau dengan rasa lelah yang tertahan..? Nenek berulang kali keluar masuk kamar melihatmu yang sedang sibuk dengan dunia mimpimu, dan menyuruhku untuk tak mengusikmu karena beliau tahu engkau lelah. Tak sadarkah engkau bahwa waktu kita sangat sedikit..? Tak bisakah engkau tak menunjukkan rasa lelahmu dihadapan kami..? Harusnya engkau tahu cara memanfaatkan waktu kita yang sedikit itu, kak.
Sejak engkau berhasil mencicip untuk menimba ilmu di negara tetangga, kini engkau sibuk mencari kegiatan lain yang dapat membawamu ke negara lain. Semuanya engkau cari dengan sungguh-sungguh, sampai apa yang engkau inginkan engkau dapatkan. Namun sadarkah engkau bahwa engkau melupakan kami, kak.. Apa engkau memikirkan ibu yang tak pernah menampakkan wajah khawatirnya ketika tahu bahwa engkau akan kembali keluar negeri? Atau apa engkau tak memikirkan nenek yang setiap waktu mengkhawatirkanmu dan jelas-jelas beliau tunjukkan rasa khawatir itu, kak..? Yaaaa andai engkau tahu ketika ada engkau, mereka menunjukkan wajah senang mereka dihadapanmu, tapi ketika engkau tak ada, mereka mulai mengkhawatirkanmu lagi, dan kami adik-adikmu yang menjadi saksi dalam kasus ini..

Nampaknya engkau tak khawatir dengan keadaan kami, kak.. Mengapa engkau tak peduli..? Ketika engkau marah pada Ibu, marah pada nenek yang mengekang kegiatanmu, tak terfikirkah engkau akan perasaan mereka..? Bahkan, engkau pernah mengatakan lebih baik menjadi orang bodoh jika engkau tidak boleh ikut kegiatan ini itu yang engkau pilih.. Ketahuilah, engkau sudah menjadi orang yang sangat sangat sangat bodoh karena mengatakan hal itu, kak.. Jika engkau berfikir bahwa kami tak mendukungmu, kami tak bangga padamu, engkau salah kak.. Karena aku terlalu bangga padamu, sampai-sampai aku iri padamu, kak.. Berlipat-lipat rasa iriku padamu..

Ada hal lain yang membuatku bingung dengan sikapmu, kak.. Ketika engkau berada ditempat orang lain, engkau begitu rajin mengerjakan kegiatan-kegiatan rumah. Namun ketika dirumah, engkau tak seperti itu. Engkau bilang bahwa engkau lelah, engkau sibuk atau apalah alasan lain, yang jelas engkau berbeda, kak.. Mengapa..? Mengapa seperti itu, kak..? Tak bisakah engkau juga rajin ketika berada dirumah sendiri..? Apa yang menjadi landasan engkau membedakan diri seperti itu, kak..? Apa karena itu bukan dirumah..? Tak bisakah engkau bersikap manis seperti yang engkau lakukan diluar sana..? Seperti apa dirimu yang sebenarnya, kak..? Dimana engkau berpura-pura dengan menjadi dirimu yang lain, kak..? Dirumah atau diluar sana, kak..?

Ah, waktumu memang terlalu mahal, ya kak. Sampai-sampai kami tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama kami.. Hmm,, aku memang tak seberuntung engkau kak, tapi ketahuilah, aku bersyukur aku seperti ini..

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, kakek nenek , dan adik. Pada akhirnya,  tak mundur sedetik juga tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Maafkan adikmu apabila isi hati ini salah, kak.. Maafkan adikmu yang terlihat sok tahu ini.. Maaf, kak..

 
Cafe de Rahma15 Blogger Template by Ipietoon Blogger Template