Orang bilang kakakku seorang aktivis, kata
mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Ia dikenal oleh semua orang.
Orang bilang kakakku seorang aktivis, dengan segudang kesibukan yang disebutnya kepentingan kampus.
Orang bilang kakakku seorang aktivis, tapi bolehkah aku sampaikan padamu kak? “Ibu bilang engkau hanya seorang putri kecil ibu yang lugu.”
Kakakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan
segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu
terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu kak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibu kita adalah sesuatu yang sia-sia, kak..? Sungguh, seperti engkau tahu, setengah dari umur ibu telah ibu habiskan
untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu kak, tanpa pernah ibu berfikir
bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.. Hampir setiap hari selalu kita habiskan waktu
bersama adik-adikmu yang lain, sampai saat sebelum engkau mencapai kesuksesanmu
saat ini..
Kakakku, kita memang berada disatu atap kak, di atap yang sama saat
dulu engkau bermanja dengan ibu, bersenda gurau dengan adik-adikmu. Dari
raut wajah Ibu, masih nampak jelas teringat oleh ibu kenangan-kenangan manis ketika engkau masih ada didekapannya, dipelukannya, disisi kami..
Tapi kini dimanakah rumahmu, kak..? Kami tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari kami tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam
engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi
harusnya engkau tahu bahwa ibu
berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.. Ah,
lagi-lagi engkau harus
tahu kalau ibu terpaksa harus
mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu
lagi tersenyum untuk ibu..
Atau jangankan untuk tersenyum, sekadar untuk mengalihkan pandangan pada ibu saja mungkin jarang engkau lakukan..
Setiba dirumah dari kampusmu, engkau segera masuk kamar, menyalakan laptopmu,
untuk sibuk dengan duniamu sendiri.. Ketika engkau ditanyai mengenai
kegiatanmu, mengenai keadaanmu oleh nenek atau ibu, mengapa engkau tak pernah
berlemah lembut dalam menjawabnya, Kak..? Ketika aku memberitahumu untuk menjawab
dengan baik, engkau marah. Dengan tanpa senyum dan muka yang berlipat-lipat engkau
bilang bahwa dirimu memang seperti itu. Benarkah itu, kak? Apa engkau seperti
itu ketika ditanya temanmu? Apa engkau seperti itu ketika ditanya dosenmu? Apa
engkau menjawab mereka seperti halnya yang engkau lakukan pada nenek dan ibu, kak..?
Apa engkau menjawab mereka dengan wajah yang sama seperti engkau tampakkan pada
nenek dan ibu, kak..? Apakah kegiatanmu membentukmu seperti itu, kak..? Apa
kegiatanmu yang mengajarkanmu seperti itu, kak..?
Padahal, andai
kau tahu kak,
tak terpikirkankah olehmu bahwa ibu
ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik
saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau kak, tapi bukankah dia ibu kita, wanita yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimnya..?
Kakakku,
kami mendengar engkau sedang begitu sibuk
kak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib
organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader
kegiatanmu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu.. Engkau tahu,, kami bangga padamu,, amat bangga padamu kak. Namun,
apakah engkau tahu, sebagian hati ibu
mulai bertanya kak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibu yang selalu menantikanmu? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu, mengkawatirkan kami seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan kegiatanmu..? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu kak..? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting
dari seabrek kegiatanmu kak..?
Kakakku, aku
sungguh sedih melihat sikapmu.
Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu
dengan keluargamu. Memang kak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak
akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan
berbagai amanah yang harus kau lakukan.. Tapi bukankah keluargamu ini adalah
tugasmu juga kak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu
yang juga harus kau jaga kak..?
Kakakku,
aku mencoba mengetahui semua kegiatanmu. Kegiatan sang aktivis.
Jadwalmu begitu padat kak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji,
ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting, sibuk meng-apply beberapa dokumen untuk pergi
megikuti kegiatan-kegiatan di luar negeri. Dalam agendamu, ada sekumpulan kegiatanmu, ada
sekumpulan mimpi dan harapanmu. Aku berharap ada agendamu untuk menghabiskan waktu bersama kami,,
Dan kurasa, ternyata memang tak ada kak, tak
ada agenda untuk bersama ibu kita yang mulai renta,
bersama adik-adikmu yang mulai tumbuh dewasa, bersama kakek nenek yang telah
merawat dan membuatmu besar dan sukses seperti ini. Tak ada cita-cita untuk kami. Tak terlintaskah dibenakmu untuk
mengajak kami ikut dalam kegiatanmu..? Masih teringat dengan jelas ketika aku
memintamu untuk mengajakku dalam kegiatanmu,, tapi apa jawabmu..?? Engkau
membuatku menangis mendengar jawabanmu.. Padahal
kak, andai engkau tahu aku juga ingin berkembang denganmu, melangkah
beriringan denganmu.. Apakah engkau tak ingin adik-adikmu sukses sepertimu..?? Engkau
terlihat seperti ingin maju sendiri, tanpa kami.. Dan andaikan engkau tahu,, sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan
agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putri kecilnya. Lalu,, bagaimana denganmu, kak..??
Kalau boleh kami meminjam bahasa mereka,
mereka bilang engkau seorang yang aktif, cerdas, pandai, periang, supel.. Lalu,, adakah dirimu yang
seperti itu engkau tampakkan dihadapan kami..?? Mereka bilang engkau organisatoris yang profesional.. Boleh aku
bertanya kak, dimana profesionalitasmu untuk ibu..? Dimana profesionalitasmu untuk adik-adikmu, untuk keluargamu..? Dimana
engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat, kak..?
Ketika kita tak berada dibawah satu
atap, tahukah engkau kami selalu memikirkanmu, selalu bertanya sedang apa
engkau, apa engkau baik-baik saja..? Sering Ibu terjaga ditengah malam,
membangunkanku untuk menanyakanmu, dan kunyalakan laptopku ketika SMS dariku
tak ada balasanmu, ketika belasan panggilan ketelepon genggammu tak ada jawaban.
Terlalu sibukkah engkau sampai tak ada waktu membalas SMS itu? Mengangkat
telepon Ibu pun tak engkau lakukan. Tak pernahkah engkau mencoba menghubungi
kami kembali ketika aktifitasmu selesai..? Sesibukkah itu engkau bergembira
dengan kegiatanmu, sedang kami disini mengkhawatirkanmu.. Kulihat di jejaring
sosial, ada dirimu yang sedang online. Namun apa daya, aku memanggilmu, tapi
tak pernah kau hiraukan. Kemana engkau..? Tak bertanya-tanyakah engkau mengapa
aku memanggilmu..? Kami coba mengomentari semua yang terbaru dari jejaring sosialmu,
yang kami lihat selalu kau balas komentar teman-temanmu, tapi tak satupun kau
balas komentar kami walau hanya basa-basi.. Yang membuatku bertanya-bertanya,
mengapa orang yang hanya menyukai fotomu, kau balas dengan mention darimu.?
Sedangkan tak ada satupun mention untuk kami, adik-adikmu..Apakah engkau juga
begitu terhadap temanmu, kak? Rekan kuliahmu? Rekan organisasimu? Teman
kegiatanmu? Apakah kami tak lebih berarti dibanding mereka, kak..?
Ketika engkau pulang kerumah dengan wajah
kusutmu, tak pernahkah engkau berfikir untuk pulang kerumah dengan senyuman,
walau engkau lelah dengan kegiatanmu..? Engkau langsung tidur pulas setelah melepas
semua bawaanmu, tak terfikirkah engkau untuk berkumpul bersama dan menceritakan
kegiatanmu hari itu walau dengan rasa lelah yang tertahan..? Nenek berulang
kali keluar masuk kamar melihatmu yang sedang sibuk dengan dunia mimpimu, dan
menyuruhku untuk tak mengusikmu karena beliau tahu engkau lelah. Tak sadarkah
engkau bahwa waktu kita sangat sedikit..? Tak bisakah engkau tak menunjukkan
rasa lelahmu dihadapan kami..? Harusnya engkau tahu cara memanfaatkan waktu kita
yang sedikit itu, kak.
Sejak engkau berhasil mencicip untuk
menimba ilmu di negara tetangga, kini engkau sibuk mencari kegiatan lain yang
dapat membawamu ke negara lain. Semuanya engkau cari dengan sungguh-sungguh,
sampai apa yang engkau inginkan engkau dapatkan. Namun sadarkah engkau bahwa
engkau melupakan kami, kak.. Apa engkau memikirkan ibu yang tak pernah
menampakkan wajah khawatirnya ketika tahu bahwa engkau akan kembali keluar
negeri? Atau apa engkau tak memikirkan nenek yang setiap waktu mengkhawatirkanmu
dan jelas-jelas beliau tunjukkan rasa khawatir itu, kak..? Yaaaa andai engkau
tahu ketika ada engkau, mereka menunjukkan wajah senang mereka dihadapanmu,
tapi ketika engkau tak ada, mereka mulai mengkhawatirkanmu lagi, dan kami
adik-adikmu yang menjadi saksi dalam kasus ini..
Nampaknya engkau tak khawatir dengan
keadaan kami, kak.. Mengapa engkau tak peduli..? Ketika engkau marah pada Ibu,
marah pada nenek yang mengekang kegiatanmu, tak terfikirkah engkau akan
perasaan mereka..? Bahkan, engkau pernah mengatakan lebih baik menjadi orang
bodoh jika engkau tidak boleh ikut kegiatan ini itu yang engkau pilih..
Ketahuilah, engkau sudah menjadi orang yang sangat sangat sangat bodoh karena
mengatakan hal itu, kak.. Jika engkau berfikir bahwa kami tak mendukungmu, kami
tak bangga padamu, engkau salah kak.. Karena aku terlalu bangga padamu, sampai-sampai
aku iri padamu, kak.. Berlipat-lipat rasa iriku padamu..
Ada hal lain yang membuatku bingung
dengan sikapmu, kak.. Ketika engkau berada ditempat orang lain, engkau begitu
rajin mengerjakan kegiatan-kegiatan rumah. Namun ketika dirumah, engkau tak
seperti itu. Engkau bilang bahwa engkau lelah, engkau sibuk atau apalah alasan
lain, yang jelas engkau berbeda, kak.. Mengapa..? Mengapa seperti itu, kak..?
Tak bisakah engkau juga rajin ketika berada dirumah sendiri..? Apa yang menjadi
landasan engkau membedakan diri seperti itu, kak..? Apa karena itu bukan
dirumah..? Tak bisakah engkau bersikap manis seperti yang engkau lakukan diluar
sana..? Seperti apa dirimu yang sebenarnya, kak..? Dimana engkau berpura-pura
dengan menjadi dirimu yang lain, kak..? Dirumah atau diluar sana, kak..?
Ah, waktumu memang terlalu mahal, ya kak. Sampai-sampai kami tak
lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama kami.. Hmm,, aku memang tak
seberuntung engkau kak, tapi ketahuilah, aku bersyukur aku seperti ini..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan
dengan orang tercinta, ibu, kakek nenek , dan adik. Pada akhirnya, tak mundur sedetik juga tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai
yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga
masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Maafkan adikmu apabila
isi hati ini salah, kak.. Maafkan adikmu yang terlihat sok tahu ini.. Maaf,
kak..



