Senin, 29 Desember 2014

U-Gen Summit 2014 (LAST DAY)

(ini bakalan jadi cerita terpanjang!)

HARI KETIGA dimulai pukul 6.00 WIB. Peserta sudah berkumpul di lapangan sambil olahraga kecil dengan tema pakaian biru! Hampir setengah jam pemanasan, kami langsung memasuki bus untuk berangkat menuju Kambang Iwak, lokasi yang jadi tujuan youth walk, karena disana merupakan area car free day dan memang selalu ramai dikunjungi orang Palembang setiap hari Minggu, sehingga sangat cocok untuk berkampanye disana. Letaknya yang berada di pusat kota, mengharuskan kami berangkat lebih awal dan sarapan di dalam bus untuk menghemat waktu.

Sesampainya di dekat lokasi, kami turun dari bus dan briefing sebentar untuk mengingatkan batas waktu, tercapainya target dan pastinya kelancaran serta kenyamanan banyak orang.  Pukul 07.15 WIB, masing-masing kelompok beserta fasilitatornya sudah berpencar dan mulai mengkampanyekan sesuai apa yang sudah didiskusikan di malam sebelum-sebelumnya (bagi yang tidak merubah tema). Kelompok kami mengkampanyekan mengenai penggunaan gadget sesuai usia anak. Karena menurut kelompok kami, saat ini anak-anak cenderung sibuk bermain dengan gadget yang diberikan orangtua, ketimbang bermain bersama teman-teman, bahkan cenderung banyak yang tak tahu permainan tradisional karena terlupakan akibat perkembangan teknologi. Tentunya tema ini berkaitan dengan drama yang kami tampilkan. Yang menjadi target adalah orangtua yang membawa anak dan/atau anak yang terlihat bermain gadget. Kami mengumpulkan tanda tangan mereka di karton yang kami bawa dengan tulisan ‘PETISI PEDULI ANAK’. Yang paling saya ingat adalah momen ketika kami mendatangi keluarga lengkap dengan anaknya yang sibuk bermain gadget. Alhasil, orangtua mereka meminta peserta memberitahu pada anaknya karena anaknya termasuk susah dibilangi untuk mengurangi jam sibukbersama gadget, hhehe. Si anak hanya senyum malu setelah mendengarkan penjelasan dari kakak-kakak yang cantik dan ganteng ini *eaaa*. Ia bahkan bersedia menandatangani petisi dan berjanji akan mengurangi intensitas bermain gadget. Ada juga lho orangtua yang menolak mentah-mentah dan mengusir kami saat kami sedang menjelaskan, hiks :’) Ga tau masalahnya apa, mungkin karena anaknya memang sibuk bermain gadget dan ia merasa tersinggung sebagai orangtua, atau apalah tak tahu. :’) Yup! Inilah hidup, nak! Ada yang pro dan bisa juga ada yang kontra. (berlebih banget ga sih saya?) KAK! (Ketawa Amat Keras).

Meski kertas karton belum penuh, sekitar pukul 08.15 WIB, kelompok kami kembali ke titik bubar tadi. Karena waktu briefing sudah diingatkan untuk kumpul kembali di jam itu. Dan disana sudah ada satu kelompok yang menyelesaikan kampanyenya. Saya lupa kelompok berapa, tapi seingat saya kelompok ini mengumpulkan uang yang nantinya akan diberikan pada panitia untuk diserahkan di malam Charity Concert. Baik banget ya :’)
Habibi, saya, kak Lani, dan yang nyempil di belakang adalah fotografer serta  videografer acara, Kak Aji.

Ohh iya, foto di atas adalah penampakan hiasan kepala perempuan. (foto sendiri sekalian narsis) agak maksa, ya! Hhehe. Gapapa deh daripda ga ada properti tambahan sama sekali :p niatnya sih biar rame gituuu! Tapi mang rame kok, rame diliatin orang (mungkin akibat hiasan kepala yang riweh ini. #PEDEABIS!)

Foto kelompok 4 sebelum memulai Youth Walk.
Dari kiri : Reizki, Yasser, Laila, Ariza, Rina, Kak Lani, Rara (saya) dan Hardi.
(dokumen pribadi)
Eksis itu seperti keharusan! Wkwkwk
(dokumen pribadi)
Selesai foto disini, beberapa peserta merasa bangga dengan Kota Palembang yang mempunyai lokasi seperti Kambang Iwak ini, yang mampu mengumpulkan begitu banyak orang dengan berbagai aktivitas mulai dariperkumpulan komunitas-komunitas, jogging, senam bersama, olahraga (sepeda, badminton, dll), berdagang apa saja layaknya toserba yang tersebar di sekitar lokasi Kambang Iwak Family Park (KIF Park), atau sekadar jalan-jalan bersama teman dan keluarga.
 Foto di akhir Youth Walk kelompok 4.
Ariza bukannya sibuk sama gadgetnya kok. Dia hanya memainkan perannya sebagai maniak gadget :p 

Selesai dari acara youth walk, evaluasi hasilnya secara singkat, kemudian peserta ada yang mampir ke toko pakaian khas Palembang, ada yang berfoto-foto di sekitaran Kambang Iwak, dan sebagainya. Di beberapa kesempatan, kami sibuk berfoto ria. Hhe. Jadi yaa maafkan juga foto yang saya perlihatkan hanya foto yang ada di handphone saya karena belum sempat meminta foto pada panitia dokumentasi.
(sempetin) foto bareng Ibu Asrama, Erika, dan Reizki di toko oleh-oleh
(dokumen pribadi)

Bernarsis ria sembari menunggu rekan lain yang sibuk melihat-lihat dan juga belanja oleh-oleh pakaian.
Ini foto di depan Museum SMB II sekalian untuk ambil foto dan video pakai Drone oleh Kak Aji!
Dari KIF Park, butuh waktu 15 menit untuk kami bergerak ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II  (SMB II) dan berjalan kaki menuju Benteng Kuto Besak (BKB) yang terdapat juga pemandangan tenangnya aliran Sungai Musi. Tawaran untuk menuju Pulau Kemaro pun tak terelakkan, namun sayang kami tak punya banyak waktu untuk mengajak peserta ke tempat wisata tersebut. Setelah merasa cukup mengambil foto, tak butuh waktu yang lama kami berada di BKB, karena banyak peserta yang kepingin mencicipi wisata kuliner Palembang. Alhasil, peserta yang ingin naik ke jembatan Ampera tak dapat terwujud. Mereka harus puas berfoto dari pelataran BKB dengan background Ampera. Tepat pukul 11.00 WIB, bus kami meninggalkan BKB dan menuju salah satu daerah pusat wisata kuliner, yaitu Pasar Sekanak yang berjarak hanya 5 menit dari BKB.

Sejak turun dari bus, peserta dari luar Palembang seolah tersihir dan matanya berubah menjadi pempek. (sumpah yang ini beneran lebay!) hheheh. Banyaknya toko kuliner Palembang ini menyebabkan peserta terpisah. Eits, tapi tenang aja, karena fasilitator masing-masing ada yang menjadi guide mereka, bahkan panitia yang lain pun ikut turun tangan mengawal. Tentu saja sebelum berpisah-pisah, kami sepakat kembali ke bus pukul 12.00 WIB. Kebetulan saya dan Kak Lani yang tak terpisahkan ini mendampingi beberapa peserta, yaitu ada Trio dari Medan, Yasser, Laila dan Anita, terus ada Habibi dan Khairul dari Padang, Andi Hajar dari Palu juga tak ketinggalan ‘wong’ asli Palembang, Hardi. Mereka yang kebingungan memilih menu akhirnya kami sarankan memilih satu-satu jenis pempek, baik pempek yang kecil-kecil hingga pempek kapal selam. Sebenarnya mereka ini mencari pempek lenggang, sayangnya tidak ada toko yang menjualnya di daerah Pasar Sekanak ini. Selain macam-macam pempek, di daerah ini juga bisa didapatkan kuliner lain seperti tekwan, model, celimpungan, laksan, hingga kerupuk dan kemplang asli Palembang. Tak lupa, di lokasi makan pempek pun, harus diabadikan. Wkwkwk

Inilah wajah-wajah pemangsa kuliner Palembang.
Dari kiri ke kanan : Khairul, Habibi, Kak lani, Hardi, Rara (saya), Hajar, Laila, Anita dan Yasser.
Selesai wisata kuliner dan sesuai jam yang telah disepakati, akhirnya kami kembali ke bus. Ada-ada saja kelakuan peserta U-Gen Summit 2014 ini, beberapa peserta bukannya membawa pempek, malah membeli beberapa sisir pisang. Iya sih, Pasar Sekanak memang salah satu pusatnya segala macam pisang didagangkan! Katanya buat ngemil di bus. Belum jauh bus berjalan, ‘cemilan’ tadi udah dikeluarkan dari kantongnya. Lebih lucu sebenernya, yang ketawa-tawa karena kelakuan peserta tadi, ternyata ikutan makan pisang, lho! Tebak apa selanjutnya? Dalam sekejap, pisang yang dibeli ludes dalam hitingan detik. Hmm~ ternyata pada doyan pisang :D

Bus kemudian bergerak menuju Masjid Agung yang hanya ditempuh selama 5 menit dari Pasar Sekanak. Namanya pusat dan salah satu ikon Kota Palembang, peserta tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan foto di bundaran air mancur yang merupakan titik 0 km Kota Palembang. Dari bundaran air mancur ini, beberapa spot bisa didapat, seperti Jembatan Ampera, Masjid Agung hingga Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat). Tak hanya peserta dari luar kota, panitia dan volunteers pun ikut foto-foto. Banyak yang ngakunya orang asli Palembang, tapi ga pernah foto di atau dari air mancur ini, “Malu dilihat orang. Nanti dikatain ‘dusun’. Soalnya kalo lagi lewat terus liat orang yang foto disana, suka bilang gitu juga. Makanya mumpung lagi rame-rame karena ada event seperti ini, sayang ga foto-foto juga.” Alasan lucu untuk malu pada kota sendiri hhihi :3 Hayooo ngaku siapa yang pernah seperti ini di kota sendiri??

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Tak mau membuang waktu, keasyikan peserta pun harus kami ganggu karena mereka mampir kesini untuk sholat zuhur di Masjid Agung bagi yang beragama Islam. Selesai sholat, mereka meminta tambahan waktu sebelum pulang ke asrama. Mengingat cuaca siang yang terik, panitia tak tega memupuskan harapan mereka, akhirnya peserta diberi tambahan waktu hingga pukul 13.30 WIB untuk menikmati tempat bersejarah di Palembang. Panitia mengajak peserta menyebrang ke Monpera untuk berfoto disana, bahkan ada yang ‘mampir’ ke ikon paling terkenal Kota Palembang, yaitu jembatan Ampera. Salut! Panas terik tak menyurutkan semangat mereka untuk mengabadikan diri dalam bentuk potret. Ada beberapa peserta yang tak ikut serta karena mereka ngidam makan martabak HAR. Awalnya panitia tak mengizinkan, namun saya menjamin mereka kembali ke bus tepat waktu. Akhirnya, saya ditemani Hardi bersama dengan Laila, Yasser, Anita dan Yossi menyebrang dari Masjid Agung menuju tempat yang memang sebenarnya ‘wajib’ dihampiri pendatang. Martabak HAR. Siapa yang tak kenal dengan namanya yang sudah tersohor ini? Empat peserta yang bukan orang palembang ini bersyukur sekali, karena Hardi kenal dengan orang yang bekerja di tempat ini dan menceritakan kegiatan yang sedang diikuti ini, kami diberi martabak secara GRATIS. Yah lumayan sebanding dengan tak ikut peserta lain ke Monpera, kata mereka.

Teng teng teng! Time’s up! Sesuai perjanjian, semua peserta balik ke bus. Raut bahagia terpancar dari semua peserta yang tetap terlihat meski wajah mereka terbakar sengatan matahari itu. Tak ayal, sepanjang perjalanan, sekali lagi, masing-masing peserta menyatakan kekagumannya akan kota ini. Berbagai pertanyaan dan candaan pun kembali menghiasi bus yang kami tumpangi. Semua sudah didapat, oleh-oleh, foto-foto di destinasi wisata Palembang, hingga mencicipi kuliner khas Kota Palembang. Saya yang bahkan tak ingat kapan terakhir tidur ini pun ikut senang karena bisa memuaskan peserta yang berkunjung dan berpartisipasi di U-Gen Summit 2014 ini. Bravo!

FYI, bagi yang belum pernah ke Palembang, bundaran air mancur, Masjid Agung, Monpera, Jembatan Ampera, Museum SMB II, Monpera, BKB, Sungai Musi, martabak HAR dan Pasar Sekanak berada dalam lingkup yang tak terlalu jauh, makanya jarak tempuh hanya berkisar 5 hingga 10 menit, seperti berputar-putar di satu area saja, hhehe.

Waktunya istirahat. Peserta akan kembali berkumpul pukul 18.00 WIB untuk bersiap2 berangkat ke The Soul Cafe, tempat akan digelarnya malam penutupan dan konser amal.

(edited)
Ohya, ada sedikit cuplikan hasil karya Kak Aji yang akan saya sisipkan di postingan kali ini. Video ini juga diputar di malam konser amal, lho! Banyak peserta yang berkomentar, "sayang banget kurang lama. Hihihi." Yakk, selama dua hari ini, diringkaslah menjadi bebebrapa menit seperti berikut ini. Selamat menonton!
Ini saya ambil dari youtube ibu asrama, Erika,karena di channel youtube saya ga mau terupload! Kapan-kapan saya coba lagi!



Saya juga mau istirahat dulu. Nanti saya lanjutkan lagi (kalau ingat) wakakaka! Ceritanya masih lebih panjang dan lebih seru !

U-Gen Summit 2014 (DAY 2)

HARI KEDUA ini, selain diisi dengan seminar, ada juga kegiatan donor darah bersama Palang Merah Indonesia (PMI). Hal ini dimaksudkan agar para peserta yang mau bisa ikut membantu dengan menyumbangkan darahnya melalui PMI. Pendonor tidak hanya peserta seminar saja kok, karena donor darah ini dibuka untuk umum. Kemudian, pengunjung (pendonor maupun peserta) bisa membeli atau sekadar melihat-lihat barang yang ada di bazaar buku dan kerajinan tangan yang juga disandingkan dengan kegiatan di hari kedua UGen Summit 2014. Agar peserta seminar tidak bosan, panitia menyiapkan bintang tamu spesial untuk mengurangi kejenuhan di tengah seminar, (saya lupa bintang tamunya, :') nanti saya cari dan lihat catatan dulu) hiks.
Saati ice breaking, peserta mulai memadati arena photobooth! Seneng banget ngeliat mereka antusias berpose-pose disana. (Saya bisa melihat karena naik untuk membagikan snack, setelah itu turun lagi ke meja registrasi. Available bingits dah dimana-mana!)

Panitia U-Gen Summit yang akan membentuk boyband. Hehehe
Kiri ke kanan : Kak Abi, Yos, Kak Heru, Kak Uyunk, Kak Tian dan Danu.
(dokumen pribadi)

Beberapa panitia dan volunteer yang menyempatkan diri berpose sebelum photobooth 'dihancurkan' :(
(aduh yg jilbab merah saya lupa namanya) 0_0
Mba Des, Kak Obin, Kak Uyunk, Kak Heru, KakTian, Danu, Mba Trida,
Kak Abi, Yos, Kak Agus, Mba Dian.
(dokumen pribadi)
Fotonya saya yang ambilin, jadi ga ada saya disana. Wkwkwk. Syedih ga bisa ikutan foto bareng karena ga ada lagi yang mau fotoin. Para peserta udah turun dan bersiap ke masjid.Tapi sebenernya kesedihan itu ga berarti apa-apa, karena yang lebih menyakitkan adalah balon-balon yang dibentuk dan dibuat susah payah semalam suntuk, dengan gampangnya dipecahkan pakai jarum pentul oleh salah satu panitia, karena ga memungkinkan dibawa ke asrama. Aaaarrrgghh!!! Yasyudahla, nak :') Balon sudah meletus...

Sekitar pukul 12.30 WIB, acara di DD selesai, dan meja registrasi disesaki dengan peserta umum yang mengambil sertifikat. Bahagia banget bisa jadi volunteer gini :’) kerja apa aja rela dan seneng.
Semua beres, lanjut ishoma hingga pukul 13.30 WIB, kemudian dengan menggunakan bus selama 10 menit, kami berangkat ke salah satu pusat perbelanjaan di Palembang, yaitu Palembang Square, tepatnya ke Carefour. Apa yang dilakukan? Para peserta diminta untuk membelanjakan keperluan yang akan digunakan untuk kepentingan Youth Walk di hari Minggu (14/12). Selama 15 menit, dua orang dari masing-masing kelompok dan didampingi oleh kakak fasilitatornya, mencari barang yang diperlukan sesuai kebutuhan dan budget yang diberikan panitia. Momennya bener-bener kayak di reality show ‘Uang Kaget’ wkkwkw. Belum lagi kakak fasilitatornya tidak diperkenankan memberitahu letak barang yang dicari, karena kami disuruh merekam mereka. Syalalallala~ pengunjung lain yang ngeliatin malah ada yang komentar, “Sok artis banget direkam-rekam”. Hiiihh, padahal mereka ga tau tujuannya buat apa.

Foto Kelompok 4. (kurang 1 orang)
Dari kiri : Reizki, Hardi, Laila, Kak Lani, Yasser, Rina, saya (Rara)
Foto diambil saat bersiap pulang dari Palembang Square,
 sembari menunggu kedatangan kelompok lain.


Acara di Palembang Square mengakhiri perjalanan hari kedua. Kami kembali ke Asrama Haji yang perjalanannya memakan waktu hampir 40 menit karena macetnya Kota Palembang. Sepanjang perjalanan, peserta sudah ada yang tertidur karena capek, ada pula yang harus menahan telinga mendengar ocehan ‘wong kito galo’ mengenai tempat-tempat yang kami lewati. Saya menjadi salah satu orang yang ikut bercerita mengenai Kota Palembang, karena saya berdiri di pintu belakang bus, yang mana kursi belakang merupakan tempat pilihan terbanyak bagi beberapa orang. Hhihi. Deretan bangku belakang merupakan tempat favorit saya saat di bus. Ini dikarenakan pintu yang lebih terbuka memungkinkan lebih besar untuk terkena tiupan angin, dan berdiri merupakan posisi yang paling saya sukai saat berada di transportasi umum yang memperbolehkan berdiri tanpa peduli sejauh apapun jarak yang ditempuh *jiiaaahhh~

Setiba di Asrama Haji kurang lebih pukul 15.20 WIB, peserta diperkenankan beristirahat hingga pukul 17.00 WIB. Saat berkumpul kembali, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi menampilkan apa saja di malam kesenian nanti. Acara bebas hingga pukul 19.00 WIB. Kami sebagai fasilitator tentu masih ikut andil. Sembari makan malam, peserta masih disibukkan dengan diskusi kecil masing-masing. Kelompok kami memutuskan untuk menampilkan drama mengenai Gadget VS Permainan Tradisional.

Sekitar pukul 19.30 WIB, malam kesenian pun dimulai. Masing-masing kelompok unjuk kebolehan selama 15 menit. Penampilan para peserta dikomentari oleh ‘juri’. Yaaah, buat seru-seruan aja sih, hhehhe. Selain drama, ada yang menampilkan dramatisasi puisi, musikalisasi puisi dan bernyanyi. Setelah semua kelompok tampil, ternyata hanya kelompok kami yang fasilitatornya ikut bermain di malam kesenian itu. HAHAHA =D (sebut saja acara mempermalukan diri). Malam kesenian ini tentu saja meriah karena selain santai, penampilan masing-masing kelompok mampu membius penonton. Ada yang tertawa terbahak-bahak, merinding bahkan menangis dibuatnya. Di akhir acara, dipilih salah satu kelompokterbaik pilihan juri yang nantinya tampil pada malam penutupan di Charity Concert. Meski kelompok kami tidak terpilih, tapi kami tetap senang kok.

Malam kedua ini, peserta dijadwalkan tidur lebih cepat dari malam sebelumnya karena keesokan harinya jadwal bangun lebih pagi karena youth walk akan dimulai pukul 7 pagi. Namun, peserta tak semuanya langsung istirahat karena masing-masing menyiapkan properti untuk kegiatan youth walk dengan peralatan dan perlengkapan yang sudah dibeli siang harinya. Saya pun demikian, karena merasa bertanggungjawab terhadap kesuksesan kelompok kami besok, saya tidak tidur (lagi). Saya membuat aksesoris untuk dikenakan kelompok saya dengan memanfaatkan kertas karton, spidol warna dan keahlian ‘mencoret-coret’. Untuk peserta laki-laki, saya buatkan hiasan kepala berbentuk tanjak, dan yang perempuan niatnya mau buat bentuk pending yang keduanya merupakan salah satu aksesoris dalam pakaian khas Sumatera Selatan. Karena buatnya sambil ngobrol, jadi ga kerasa jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Saya sudah mempersilahkan anggota kelompok saya tidur lebih dahulu supaya keesokan harinya fit. Meski begitu, saya beruntung ditemani Hardi hingga pukul 3 pagi sambil ngemil-ngemil cantik. Wkwkwk~

U-Gen Summit 2014 (DAY 1)

HARI PERTAMA, tentu saja menyambut kedatangan peserta dari beberapa provinsi di nusantara. Sejak pukul 12.00 WIB, peserta sudah mulai berdatangan. Panitia disibukkan di ‘meja kerja’ yang harus dihampiri oleh peseta yang baru datang untuk absensi dan pemberian alat tulis juga cindera mata. Setelah absensi, mereka diantar ke kamar masing-masing yang telah dibagi secara acak sembari beristirahat menunggu acara pembukaan. Peserta diperkenankan jalan-jalan di sekitar area asrama ataupun tidur untuk menambah tenaga #eaaaaa. Pukul 16.00 WIB, peserta dikumpulkan untuk briefing acara, perkenalan masing-masing sambil sesekali diselingi dengan games, juga pembagian kelompok serta kakak pendamping selama acara berlangsung. Semua peserta terbagi dalam 6 kelompok dengan didamping dua orang fasilitator. Saya berduet dengan Kak Lani yang rame-rumpita abis, mendampingi kelompok 4 yang terdiri dari Reizki (Palembang), Yasser (Medan), Laila (Medan), Ariza (Jakarta), Rina (Palembang) dan Hardi (Palembang). 

Kegiatan pembukaan dimulai pada pukul 19.00 yang saat itu turut hadir orang-orang penting dari GPF Indonesia. Kemudian, acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. MAKAN-MAKAN!!!! wkkwkw. Bukan hanya peserta yang lapar, semua yang sedari siang disibukkan ini itu pasti sudah menahan bunyi keroncongan di perut (lebay dikit gpp, yah!) Ajaibnya, di sela-sela makan malam saja para peserta sudah larut dalam diskusi yang memang sepatutnya diperbincangkan. (yaiyalah, orang mereka udah dikasih ancang-ancang sama panitia, selepas dari gala dinner bakal diskusi mengenai topik yang sudah disepakati saat games pada sambutan pembukaan. Hhahah!) 

Perut kenyang, hatipun senang. Sebagai pemanasan, pukul 19.50 WIB, selama kurang lebih setengah jam, para peserta berdiskusi mengenai topik yang sudah ditentukan pada saat gala dinner tentang (topiknya apaaa). Kemudian dilanjutkan dengan diskusi untuk kegiatan Youth Walk oleh masing-masing kelompok dan mempresentasikan di depan ‘juri’ apa yang akan peserta lakukan/kampanyekan. Hal tersebut mencakupi tema, tujuan, manfaat serta bahan apa yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan youth walk tersebut. 

Melewati jam 22.10 WIB, diskusi selesai. Saatnya tidur! Yup, harus diakui jamnya molor dari yang direncanakan, sehingga resikonya para peserta hanya dapat tidur untuk beberapa jam, namun harus bangun sangat pagi karena harus siap-siap untuk sarapan dan seminar keesokan harinya. Nah lho! :p 

Apa yang saya lakukan? Pergi tidur? Tentu tidak :’) Setelah evaluasi kegiatan hari pertama, sebenarnya saya bisa saja tidur seperti peserta dan volunteer lainnya, namun karena sebelumnya saya mendengar beberapa panitia ada yang pergi ke Dunkin’ Donuts (DD) untuk mempersiapkan dan mendekorasi tempat seminar, saya lebih memilih untuk ikut kesana membantu apa yang bisa saya kerjakan daripada tidur. Wiiihhh~ sok banget ya? :p 

Sempetin nge-path di tengah pagi. wkwkw
(dokumen pribadi)

Di DD, sudah ada tiga orang panitia yang beberapa saat sebelum kami sudah tiba. Saya dan beberapa panitia yang menyusul, tiba di TKP sekitar pukul 23.30 WIB. Langsung saja kami naikke lantai 2 DD, tapi masih ada beberapa customer yang belum beranjak. Alhasil, kami belum bisa ‘membongkar’ kursi dan mejanya. Sebelumnya, kru DD sedang mengepel dan sudah menyusun kursi dan meja tersebut, tapi mengingat jumlah peserta seminar diperkirakan 90 orang, sepertinya meja tak efisien berada di ruangan itu hhihihi. Belum lagi ditambah panitia dan volunteers. Ohya, 90 peserta seminar itu terdiri dari 40 peserta U-Gen Summit 2014 dan 50 peserta umum yang sudah mendaftarkan diri untuk kegiatan seminar. 

Karena saya sudah mengenal semua kru DD dan akrab sama mereka, akhirnya saya ikuit membantu beres-beres a.k.a mengepel dan sebagainya dan sebagainya supaya pekerjaan malam ini cepat selesai, hhihihihi. Masalah kursi dan meja tadi, akhirnya dengan terpaksa disusun ulang. Capek lho ngeluarin kursi dan meja-meja DD. Belum lagi ngepel luar dalem biar makin kinclong. Mandi keringat. Mejanya berat “banget’. Kalo barangnya udah dikeluarin semua, jadi luas dan bikin capek pas di pel. Salut sama krunya yang sering clean up! 

(Yak! Cukup tentang keluhan beres-beresnya. Hhahahah :hammer) 

Lantai udah kinclong, kursi udah disusun rapi dan seapik mungkin, lanjut bantuin panitia yang sibuk memompa balon untuk membuat dekorasi photobooth. Tadinya ada delapan atau sembilan orang (lupa :’ maapin yak!) panitia yang ada di DD mengerjakan dekorasi. Malam semakin larut, sinar bulan kian meredup (malah nyanyi ADA Band, hhahaha) mata udah mulai menahan beratnya rasa kantuk, dan satu persatu panitia pamit duluan pulang karena ada kesibukan masing-masing. Bahkan ada juga yang ketiduran di DD, lho! Tersisa tiga orang masih bertahan dengan niat menyelesaikan dekorasi photobooth. RUARRBIASAAA PEMIRSAAAA!!! (tepuk tangan untuk Kak Abi, Kak Riska, dan untuk *ehem* diri sendiri. Horaaayy!!) *apalah! Meskipun mata ini ngantuknya pake banget, tapi dengan harapan peserta akan senang bernarsis ria di photobooth, saya rasa itu adalah balasan yang COCOK. 

Matahari sudah menampakkan semburat cahaya paginya, dan akhirnya, inilah penampakan yang dikerjakan semalam suntuk tersebut. Cantik, kan? Kelihatan simple, tapi percayalah sodara-sodara, capeknya kebangetan. Dan emang bener-bener memakan waktu. Pssstt, ini pertama kalinya lho buat beginian! Lumayan, kan? 

Hasil kerja tim panitia U-Gen Summit 2014.
(dokumen pribadi)
Orang yang paling banyak berjasa dipembuatan photobooth, Kak Abi.
(dokumen pribadi)
Voilaaa! Sengaja (diperbarui) ambil ini di path, buat pamer dikit, ikutan eksis sebelum nanti nih tempat rame. Hhehehe 
Keliatan ngantuk nggak? Nggak kan ya, jauh banget mukanya :p
(dokumen pribadi)
Habis foto-foto dengan hasil kerja keras panitia-panitia UGen Summit 2014, saya ingat, saya tertidur di sofa DD dengan pulas, dan sialnya, kakak saya, Kak Riska, ngebanguni tepat di menit ke sepuluh saya terpejam. Tega banget, padahal dia tidur dari pukul 5 ga saya gangguin. Niatnya sih baik, nyuruh pulang buat mandi karena para peserta sedang di perjalanan menuju Dunkin’ Donuts. Benar saja, setelah cuci muka, turun dan keluar, bus yang membawa peserta sudah datang. Saya hanya senyum-senyum masem melewati mereka yang sudah rapi dan wangi dengan keadaan lusuh, bau dan mata sayu. KAK! (Ketawa Amat Keras!) 

Setelah 20 menit menempuh perjalanan pulang ke rumah, saya langsung bergegas mandi dan memilih baju yang ga perlu digosok lagi, karena ga mau ketinggalan acara seminar. Selang satu jam berikutnya, saya sudah sampai di DD lagi. Udah rame bingits yang dateng! (Yakali, kan jadwal seminar jam 8.30 WIB) Ngeliat meja registrasi di bawah sepertinya sedang kosong, saya memanfaatkannya untuk istirahat disana. Tadinya sih niatnya begitu, tapi akhirnya malah jadi jagain meja registrasi karena volunteer yang ditugasin sedang ada urusan mendadak. Yah, sesama volunteer harus saling membantu :’) Meskipun ga ngikutin seminar di atas yang kedengerannya asyik banget, tak apalah. Kuatkan hatimu, Nak! *self talking* 

U-Gen Summit 2014

Hola, halaman blog yang lama terabaikan? Hhihi.

Kesempatan (mengisi blog) yang luar binasa ini mau saya manfaatin buat berbagi mengenai kegiatan yang saya ikutin minggu lalu. Nama kegiatannya adalah United Generation Summit 2014 - Festival Pemuda Indonesia, yang disingkat U-Gen Summit 2014 – Fest Musi. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (12/12) hingga Minggu (14/12) lalu, tepatnya di Kota Pempek tercinta, Kota Palembang. U-Gen Summit 2014 ini diikuti oleh 35 pemuda pemudi pilihan di Indonesia. U-Gen Summit 2014 diselenggarakan oleh Global Peace Youth Corps Palembang (GPYC Palembang) dan didukung oleh Global Peace Foundation Indonesia (GPF Indonesia).

Global Peace Youth Corps Palembang merupakan salah satu chapter GPF yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Global Peace Foundation adalah movement yang mencetuskan pergerakan dunia. GPF Indonesia berkomitmen pada pembangunan perdamaian, bekerja dalam kemitraan (partnership) berdasarkan prinsip-prinsip, nilai dan aspirasi bersama untuk merealisasikan visi Satu Keluarga yang Berketuhanan YME.
GPF Indonesia merayakan dan mempromosikan visi ini melalui pembangunan kemitraan-kemitraan antar kepercayaan, penguatan hubungan keluarga dan suatu budaya melayani dan perdamaian. Satu Keluarga yang berketuhanan YME adalah sebuah visi yang sederhana tetapi dalam, mengakui bahwa semua orang menggunakan identitas yang perlu sekali kebersamaan. Dimana terdapat banyak perbedaan mulai dari ras, kebudayaan, etnik, suku atau agama, kita memakai sifat-sifat pribadi yang sama penting dan menegaskan hakikat dasar kemanusiaan. Semua orang adalah manusia yang beragama yang mempunyai asal yang sama, yaitu Tuhan Pencipta. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa kita adalah Satu Keluarga yang berketuhanan YME. 
GPF Indonesia adalah usaha kolaborasi untuk mengimplementasikan visi ini melalui tiga pilar utama yaitu kerjasama antar agama, keluarga, dan pelayanan. GPF Indonesia menganjurkan suatu pandangan baru dari kerjasama lintas iman untuk mencapai tujuan bersama. GPF Indonesiaberkerjasama dengan para pemuka agama untuk bergerak bukan hanya toleransi beragama, namun bekerjasama berdasarkan prinsip-prinsip universal yang sesuai bagi semua agama. 
GPF Indonesia mengakui bahwa semua orang diberkati atau di ridhoi oleh Tuhan yaitu Pencipta alam semesta dengan nilai yang sama dan merupakan bagian dari suatu warisan keagamaan yang sama. Ini adalah suatu sumber asli dari hak-hak azasi manusia dan kehormatan.Karena semua orang mempunyai nilai intrinsik. Kita, GPF Indonesia bercita-cita mewujudkan suatu komunitas global yang setara dan saling menghormati. Visi Seluruh manusia adalah One Family under God (Satu Keluarga yang berketuhanan YME) tanpa memandang ras, kebangsaan, agama, dan budaya. Misi GPF Indonesia memiliki misi untuk melahirkan pemimpin bertujuan mengubah dunia dengan mempromosikan visi One Family under God (Satu Keluarga yang berketuhanan YME). sumber : klik disini.  
Pada event akbar yang mengikutsertakan pemuda-pemudi terbaik Indonesia kali ini, saya turut serta menjadi salah satu volunteer selama acara berlangsung. Namanya juga volunteer, bagian apapun yang dikasih sama panitia inti, tentu saja saya jabanin. Mulai dari sebagai Tim Media hingga menjadi fasilitator untuk satu kelompok yang terdiri dari beberapa peserta. Itu sih hanya formalnya saja, tentunya masih ada bagian-bagian untuk pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga sukarelawan seperti kami.

Tanda pengenal yang dipakai selamaU-Gen Summit 2014  berlangsung.
(dokumen pribadi)
Sebenarnya, acara ini sudah dimatangkan berbulan-bulan sebelumnya, namun sayangnya pada H-3 kegiatan digelar, panitia baru mendapat kabar dari pihak terkait mengenai fasilitas yang akan digunakan dibatalkan. Tentunya panitia kelabakan karena semua yang direncanakan jauh-jauh hari terancam berantakan. Mulai dari tempat tinggal peserta, tempat seminar, hingga alat transportasi yang ‘harus’ diganti. Hal ini dikarenakan bertepatan di tanggal yang sama, Kota Palembang menjadi tuan rumah event Internasional, ASEAN University Games (AUG).

Di waktu yang tak cukup banyak tersebut, akhirnya didapatlah tempat tinggal peserta di Asrama Haji Palembang, yang semulanya direncanakan di Wisma Atlit. Lokasinya hanya beberapa menit dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Lalu tempat seminar yang direncanakan di (apaaaa) pindah di Dunkin’ Donuts Palembang. Untunglah kami sangat dekat dengan Branch Managernya, jadi tak terlalu sulit untuk negoisasi dan reservasi tempat. Karena bus milik pemerintah yang biasa dipakai untuk membawa pengunjung berkeliling kota tak dapat dipinjamkan dengan alasan AUG tersebut, panitia (terpaksa) menyewa bus mahasiswa trayek Palembang – Indralaya (huufh banget. wkwkwkk). Parahnya, bus ini ‘jauh’ dari kata nyaman :’)

Yak, karena ceritanya lumayan panjang, akan saya bagi masing-masing hari di postingan tersendiri.
Simak cerita selengkapnya yaa!
 
Cafe de Rahma15 Blogger Template by Ipietoon Blogger Template