Kamis, 3 Januari 2013. Akan kuingat tanggal ini sebagai hari terkacau bagi aku (-___-!!) #3113
Kejadian tidak menyenangkan terus mendera sejak sebelum fajar hingga tengah malam sebelum aku terlelap hanyut dalam mimpi dan rasa lelah.
Betapa tidak? Libur Natal dan Tahun Baru, kuiisi dengan mengerjakan laporan kerja praktik yang sedang aku jalani di semester gazal ini. Walaupun menurutku laporannya belum sempurna, setidaknya aku membuatnya setiap hari hingga tanggal #3113. Berkutat sendirian memperbaiki log harian dan membuat laporan, mataku cukup lelah untuk terus menatap layar laptop. Menurutku, selalu saja ada yang kurang disana-sini. Belum lagi beban pikiran mengenai kegiatan organisasi yang terus mendekat dan terus menghantui hari2ku.
"Kabari aku jika kau membutuhkanku"
Meminta bantuan. Itulah yang seharusnya aku lakukan. Belasan kali aku berpikir, tapi aku cukup tau diri. Aku tidak terlalu egois untuk mengganggu liburan orang lain. Aku juga takut kalau2 mereka punya kerjaan sendiri yang harus mereka lakukan. Dan pada akhirnya, aku putuskan untuk menyelesaikan tugasku (walaupun pada akhirnya semua hancur berantakan!).
Ajakan teman-teman untuk keluar rumah sekadar jalan2, bahkan ajakan merayakan tahun baru, aku tolak. Aku malas meninggalkan rumah. Aku malas keluar dari peraduanku. Sepertinya aku sudah menempel dengan laptop yang terus setia menemani hari2 liburku.
Oke, cukup. Kembali ke tanggal #3113.
Pukul 11:30 aku harus kuliah, namun aku lupa waktu dan aku merasa apa yang aku lakukan selama ini sia2. Bodoh. Ceroboh. Karena terlalu cerobohnya aku, aku bahkan lupa mem-back-up laporan yang sudah aku kerjakan belakangan ini.
Ketika akan aku print,, Yaa Rabb.. Terlalu banyakkah dosa hamba, sehingga harus menanggungnya dengan cara seperti ini..?
Tak apa kalau data yang lain, tapi mengapa harus yang ini..?!
Waktuku terhambat gara2 ini. Aku sadar bahwa aku akan sangat telat jika sampai ke kampus. Rasa lelahku bertambah. Saat ini, aku cukup tahu rasanya drop. Tak ada yang bisa mengantarku hari ini. Adikku belum pulang kerja. Beberapa anak kos yang biasa aku minta tolong sedang belajar untuk ujian. Well, aku putuskan untuk berangkat sendiri pukul 11:25 dengan pikiran yang kacau dan mata yang sembap. Tatapan orang yang melihat kearahku tak kuhiraukan. Cukup lama menunggu bus di jam2 seperti ini. Setengah jam berlalu, dan nampaklah bus tujuan kampusku. Disambut dengan kursi penumpang yang kosong, dan musik anthem-remix yang memekakkan telinga serta bau minuman tuak yang menghambur di bus ini membuatku mual dan menahan muntah. Komplit sudah penderitaan perjalanan ke kampus.
Rasa kantuk menyerang ketika rasa bosan terjebak macet. Tak bisakah semua kejadian berkompromi denganku hari ini saja. Mengapa harus hari ini..?
Entah berapa lama aku tertidur, saat tersadar, aku tahu bahwa kampusku sudah terlewat cukup jauh. Terpaksa aku turun dan naik bus lain untuk kembali ke kampus. Setelah sampai dipersimpangan, aku turun dan berjalan kaki menuju tempat tujuanku. Dua kali aku kehilangan keseimbangan hingga membuatku jatuh. Tukang becak bahkan menawarkan jasanya untuk mengantarku, namun aku terlalu mengacuhkannya #damnit!
Setiba di kampus, aku langsung menuju lantai dua. Semua serasa melayang. Sepi. Untuk sejenak, aku lalu berdiam diri di dalam toilet. Kolotnya aku, aku merasa nyaman duduk di lantai toilet ini.
Pukul 13.20 aku masuk ke kelas untuk mengikuti mata kuliah berikutnya. Masih kosong. Kumanfaatkan untuk tidur2an sekadar mengurangi rasa kantuk. Berikutnya aku mengikuti perkuliahan dengan pikiran yang mengambang.
Kuniatkan untuk menghadap pembimbing KP-ku sepulang kuliah dengan hasil apapun yang ada. Namun lagi2 aku dibuat kalut. Sebelum menghadap, aku mencoba program yang ada, namun membuatku cukup terbelalak. Programnya terus2an mengeluarkan hasil yang tidak sesuai. Entah dimana yang salah. Setahuku, aku tak mengganggu program yang aku edit terakhir tanggal 27 Desember lalu. Padahal kemarin tak ada masalah satupun. Lalu aku buka program back-up yang sebelumnya tidak aku edit, dan hasilnya sama. Aku bersumpah, aku tak mengubah sedikitpun yang ini #yaaAlloh belum cukupkah deritaku hari ini..?
Semua seakan kutanggung sendiri -,- LEMAS. Aku terduduk di samping pintu lantai 1 dengan sinar matahari sore yang menyilaukan. Pikiran akan hari esok kembali mebayangi. Kucoba menghubungi rekan seorganisasiku untuk mengurangi sedikit bebanku. Entah sejak kapan mataku panas dan pipiku basah. Aku menangis tanpa sebab yang jelas. Segera kuusap air mata itu. Untunglah keadaan sekitarku sepi. Tak ada orang yang berlalu-lalang.
Merasa seakan terasingkan, tak ada yang bisa kuajak cerita. Salahku. Karena sibuk dengan diri sendiri, bahkan orang yang peduli padaku kuacuhkan, sehingga ia benar2 tak memperdulikan lagi.
Setelah adzan maghrib, aku beranjak dari tempat dudukku, lalu aku putuskan untuk pulang. Bosan aku menunggu bus yang tak kunjung tiba, sedang matahari semakin tenggelam dimakan pekatnya langit malam. Akhirnya aku nekat meminta bantuan ke beberapa teman. Karena takut kemalaman, lalu aku putuskan untuk berjalan kaki. Diperjalanan, aku bertemu dengan anak kos tetangga rumah. Itu artinya aku tak perlu menempuh malam ini dengan langkah kaki yang berat.
Suhu badanku meninggi, menandakan "ia" akan keluar dari hidung yang tidak mancung ini. Setiba di rumah, aku mengeluarkan hp yang sempat aku masukkan di dalam tas. Dan bertambahlah rasa kaget dan penyesalanku karena membuat orang lain cemas.
Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu cemas.
“aku akan seperti tadi, dan menghindar”
Dan kini aku yakin, mungkin dimatamu aku adalah cewek kurang ajar dan tidak tahu terima kasih. HUUUAAAAHHH~ >,< aku benar2 minta maaf.
Badan panas dingin menyebabkan "ia" benar2 keluar. Pikiranku semakin kacau dengan beban yang seakan semakin menumpuk dan menumpuk, serta rasa bersalah yang terus menghujam..
Aku tak mengerti, kenapa disaat aku ingin tidur, berharap semua ikut larut dalam mimpi, rasa kantukku tak kunjung datang.. Kemudian, kucari cara dengan menengkurapkan badan diatas kasur sembari melihat dokumen2 untuk kegiatan organisasiku, menyalakan kipas dengan putaran yang paling dingin, hingga mengisi blog ini. Satu harapanku. Semoga aku terlelap. Semoga esok tak separah hari ini. Aamiin.