12 tahun sebelumnya..
Aku masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Saudariku, satu tahun
lebih tua dariku dan ia duduk di kelas 4. Menurutku, ia adalah sosok yang
mengagumkan, sangat pandai dan pantang menyerah. Dia sangat menyukai seni, baik menulis,
menggambar, menulis sekaligus menyanyi. Aku juga beruntung bertemu guru yang sangat antusias terhadap
bakat dan minat para muridnya. Termasuk bakat menyanyi yang ada pada diri saudariku.
Suatu waktu, beliau merekomendasikan saudariku itu untuk mengikuti kontes
menyanyi di Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh DIKNAS PEMPROV SUMSEL
(kebetulan yang aku ingat kontes itu diselenggarakan di tahun 2001). Beliau
juga menciptakan lagu untuknya, yang bahkan karena seringnya saudariku
menyanyikannya, akupun sampai hafal dan sangat menyukai lagu itu..
♫ ♥ ♫
Terima kasih aku ucapkan
Terima kasih aku ucapkan
Pada Ibu dan Bapak guru
Yang telah membimbingku
Di dalam kumenuntut ilmu
Sungguh besar jasa-jasamu
Dalam mencapai cita-citaku
Kubersungguh mencari ilmu
Agar tak kecewa hatimu
Bila ku telah besar nanti aku telah berhasil
Kan kusumbangkan jasaku untuk ibu pertiwi
Terima kasih oh guruku
Terima kasih untukmu.. ♫ ♥ ♫
Yapp! Serangkaian kata yang terbentuk menjadi sebuah lagu yang sarat
makna akan besarnya jasa guru-guru kita, yang kelak menuntun kita menjadi orang
besar.. Seorang guru muda yang disegani anak didiknya, dengan semangat mengajar
dan besar rasa cintanya akan pengabdian kepada negara Indonesia, menciptakan
lagu sederhana yang mampu menjadi penyulut semangat anak didiknya.
*************
Waktu
berlalu, tahun begitu cepat berganti. Di masa sekolah menengah pertamaku, aku
masih tidak berfikiran untuk mengukir prestasi yang ‘wah’ sebagai bentuk rasa
cintaku pada tempatku menimba ilmu, begitupun masa-masa sekolah menengah
atasku. Aku hanya mengikuti lomba tertentu saja, yang paling aku sukai, yaitu lomba mading. Walau beberapa kali menang, aku merasa cukup sampai disitu. Bahkan, kolotnya pikiranku yaitu ketika aku sudah cukup merasa bangga menjadi bagian dari sekolahku yang
mempunyai segudang prestasi tanpa aku ikut andil dalam bagian pengharuman nama
sekolahku.
Suatu
hari, ketika aku tengah ikut dalam rapat penyusunan strategi untuk sebuah
perlombaan tiga tahun lalu, ada satu kalimat guru pembimbingku yang membuatku terguncang. “Jangan
hanya berani menginjak bayangan kesuksesan rekanmu.” Satu kalimat yang cukup
menancap karena kalimat itu seperti menyindirku yang hanya berani menginjak
bayangan kesuksesan rekanku. Yaa, bodohnya aku selama ini. Kusia-siakan waktuku
untuk menggapai prestasi selama ini. Kuabaikan bahkan aku telah lupa terhadap
lagu yang diciptakan guru sekolah dasarku yang seharusnya menjadi penyulut
semangatku. Maafkan aku, Pak.
Kini
aku pun menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Berada di lingkungan ini
cukup membuatku terkesan dengan kampusku
yang begitu banyak menetaskan generasi-generasi berprestasi. Teringat akan
waktu yang aku sia-siakan sebelumnya, sehingga terlintas dibenakku yang mendorong
aku menjadi salah satu dari telur-telur yang menetas itu. Walaupun kuakui bahwa
peluangku untuk menjadi salah satu ‘telur emas’ yang menetas itu tidaklah besar.
Waktu
terus bergulir, hingga masuk awal tahun ketiga aku duduk di bangku kuliah tanpa
menorehkan prestasi yang dapat mengharumkan nama kampusku. Aku tak putus asa. Setiap
ada kegiatan yang sekiranya aku mampu lakukan, aku coba untuk ikuti, karena aku
tak mau hanya melihat kesuksesan rekan-rekanku dan kakak tingkatku. Aku melakukannya diam-diam, tanpa mencari dosen yang harusnya dapat kujadikan pembimbingku. Aku tak puas
untuk berdiam diri. Aku iri dengan kemampuan mereka yang berhasil. Apa yang kurang pada
diriku? Huufh.. Tidak sepatutnya aku berkata demikian, tidak ada gunanya membandingkan diri dengan orang lain. Aku pasti memiliki potensi yang bisa aku gali. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatan dan waktu yang
kusia-siakan di masa lalu. Aku harus memandang masa depan.
Di
kampusku ada banyak dosen muda yang terus menggali potensi anak didiknya. Yap! Menurutku
dosenku saat ini juga guruku. Mereka pahlawanku. Di masa-masa aku mulai memutuskan mimpiku
untuk mengharumkan nama kampusku, tiba-tiba datang secercah harapan untukku. Tak
main-main, dalam kesempatan ini, aku ditantang untuk perlombaan tingkat
nasional oleh dosenku. Semangatku sontak kembali membara. Kujalani proses penyisihan dengan
rasa berapi-api. Dibantu dengan bimbingannya, aku akhirnya tersenyum
bangga ketika berhasil mewakili provinsi Sumatera Selatan ke tingkat nasional. Dan
rasa banggaku bertambah ketika berhasil menyabet gelar juara.
Tangisan haru dan bahagiaku tertumpah di panggung kemenangan. Inikah rasanya menjadi 'bintang berprestasi' ? Kuharap ini dapat menjadi batu loncatanku untuk menggapai mimpiku berikutnya. Kulihat dosen pembimbingku dan tim-ku ikut menitikkan air mata bahagianya.. Aku kembali teringat akan lirik “Sungguh besar jasa-jasamu, Dalam mencapai cita-citaku, Kubersungguh mencari ilmu, Agar tak kecewa hatimu.. Bila ku telah besar nanti aku telah berhasil, Kan kusumbangkan jasaku untuk ibu pertiwi..” Terima kasih, Ibu, Bapak yang telah menuntun dan membimbingku hingga aku berhasil menjadi anak dari hasil 'telur emas' itu..
Tangisan haru dan bahagiaku tertumpah di panggung kemenangan. Inikah rasanya menjadi 'bintang berprestasi' ? Kuharap ini dapat menjadi batu loncatanku untuk menggapai mimpiku berikutnya. Kulihat dosen pembimbingku dan tim-ku ikut menitikkan air mata bahagianya.. Aku kembali teringat akan lirik “Sungguh besar jasa-jasamu, Dalam mencapai cita-citaku, Kubersungguh mencari ilmu, Agar tak kecewa hatimu.. Bila ku telah besar nanti aku telah berhasil, Kan kusumbangkan jasaku untuk ibu pertiwi..” Terima kasih, Ibu, Bapak yang telah menuntun dan membimbingku hingga aku berhasil menjadi anak dari hasil 'telur emas' itu..
Aku semakin mantap. Kini, aku bertekad akan terus mengejar. Aku tak akan lagi menginjak
bayangan rekan-rekanku yang terus menghindar ketika aku menginjak bayangannya.
Aku mencapai mimpiku berkat kalimat, motivasi, dan restu dari guruku. Tahukah kalian bahwa mimpiku selama ini adalah saat menyatunya
bayanganku dan rekanku..
Seandainya saja aku mundur dari rintangan yang muncul dihadapanku karena rintangan itu tampak terlalu sulit, maka berarti aku tak setia pada diriku sendiri..
Kesimpulannya, jangan takut mengambil resiko, atau bahkan gagal. Yang penting bukan menang atau kalah. Pada akhirnya, yang penting adalah cukup menyayangi diri sendiri dan mempercayai jati diri. Hhe.. :)
Aku tahu ibu pertiwi-ku saat ini baru Sumatera Selatan. Namun aku harap aku benar-benar akan mampu menyumbangkan apa yang aku dapatkan untuk mengharumkan Indonesia.
Seandainya saja aku mundur dari rintangan yang muncul dihadapanku karena rintangan itu tampak terlalu sulit, maka berarti aku tak setia pada diriku sendiri..
Kesimpulannya, jangan takut mengambil resiko, atau bahkan gagal. Yang penting bukan menang atau kalah. Pada akhirnya, yang penting adalah cukup menyayangi diri sendiri dan mempercayai jati diri. Hhe.. :)
Aku tahu ibu pertiwi-ku saat ini baru Sumatera Selatan. Namun aku harap aku benar-benar akan mampu menyumbangkan apa yang aku dapatkan untuk mengharumkan Indonesia.
"Kemuliaan bukan berarti tidak pernah jatuh., namun bangkit setiap kali kamu gagal." (Peribahasa Cina)
“Sukses
adalah kepuasan mengetahui bahwa aku berusaha sekuat tenaga, aku memberikan
segalanya, kemudian merelakan hasilnya kepada semesta.” (Donna Fargo)
**************
Tulisan ini dibuat dalam rangka Gerakan Indonesia Berkibar Blog Competition #GIBBlogCompetition yang diselenggarakan oleh @IDBerkibar



0 komentar:
Posting Komentar