Jumat, 16 November 2012

BERI AKU WAKTU



Lagi..
Aku terjaga ketika fajar belum menyingsing.. Aku tak bisa kembali memejamkan mataku.. Membaca buku atau menulis atau sekadar melihat-lihat dunia maya yang aku lakukan untuk mengisi 'waktu tidur'ku yang terganggu..

Tak terasa matahari sudah nangkring di ufuk timur.. Ohh God !! Itu artinya aku akan terlambat untuk datang ke kampus.. Segera aku melesat ke kamar mandi untuk sekadar membasahi badan yang kemarin belum sempat aku bersihkan karena kondisi badan yang kurang sehat :D

Untunglah jalanan Plaju tak sepadat seperti biasanya. Mungkin karena beberapa sekolah dan universitas disini masih libur cuti bersama.. >,< Jadi aku tak perlu merasa pusing harus berdiri di bus kota selama kurang lebih 1 jam hanya karena macet, bahkan sebelum bel masuk aku sudah tiba di kelas #tumben :p

Belakangan ini aku sudah cukup stres dengan beban yang kian bertumpuk dan menanti untuk aku selesaikan.. errgghh~ Tak cukup sampai disitu, bahkan aku pun bertengkar dengan beberapa temanku hanya karena kesalahanku #mungkin -__- maafkan aku, ya~

Selepas kuliah, aku tak bisa langsung pulang. Deadline mingguanku sudah lewat tempo dan aku harus bergegas menyelesaikannya. Tugas baruku juga menuntutku untuk bersikap cepat.. Kuakui aku bahkan kurang memperhatikan diriku sendiri.. Aku acuh terhadap kesehatanku.. Kemarin adalah puncak dari kecerobohanku selama ini.. Terkapar tanpa dapat bergerak untuk bangun dari ranjangku.. Hari ini kupaksakan untuk tak berdiam diri.. Kupaksakan tertawa bersama temanku, karena aku tahu, ketika bersama mereka adalah saat-saat dimana aku bisa melupakan masalahku sendiri.. Aku harus memanfaatkan waktuku untuk bersama mereka, karena aku juga tahu bahwa aku hidup untuk dan karena orang-orang sekitar yang mengelilingiku..

Waktu sudah semakin sore, teman-temanku satu persatu mulai pulang ke rumah. Entah apa yang menahanku untuk terus berada disini, di perpustakaan. Suasana yang nyaman. Aku menikmatinya, sampai aku tertidur entah berapa lama.. Ketika terjaga, aku menyadari ada yang aneh pada hidungku.. Uppss~ 'Si Merah' keluar lagi.. Belakangan ini ia rajin keluar dari tempat aku menghirup oksigen..

Aku tak tahu apa yang kini tengah menggerogoti tubuhku.. Tapi yang aku ingin hanya satu, menikmati hidup :') Yaa Rabb,, beri aku waktu untuk merasa dan berbagi bahagia, karena aku menyayangi mereka..

Sabtu, 10 November 2012

PENYULUT SEMANGAT, PEMBAKAR JIWA




12 tahun sebelumnya..
Aku masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Saudariku, satu tahun lebih tua dariku dan ia duduk di kelas 4. Menurutku, ia adalah sosok yang mengagumkan, sangat pandai dan pantang menyerah. Dia sangat menyukai seni, baik menulis, menggambar, menulis sekaligus menyanyi. Aku juga beruntung bertemu guru yang sangat antusias terhadap bakat dan minat para muridnya. Termasuk bakat menyanyi yang ada pada diri saudariku. Suatu waktu, beliau merekomendasikan saudariku itu untuk mengikuti kontes menyanyi di Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh DIKNAS PEMPROV SUMSEL (kebetulan yang aku ingat kontes itu diselenggarakan di tahun 2001). Beliau juga menciptakan lagu untuknya, yang bahkan karena seringnya saudariku menyanyikannya, akupun sampai hafal dan sangat menyukai lagu itu..

♫ ♥ ♫
Terima kasih aku ucapkan
Pada Ibu dan Bapak guru
Yang telah membimbingku
Di dalam kumenuntut ilmu
       Sungguh besar jasa-jasamu
       Dalam mencapai cita-citaku
       Kubersungguh mencari ilmu
       Agar tak kecewa hatimu
Bila ku telah besar nanti aku telah berhasil
Kan kusumbangkan jasaku untuk ibu pertiwi
       Terima kasih oh guruku
       Terima kasih untukmu.. ♫ ♥ ♫

Yapp! Serangkaian kata yang terbentuk menjadi sebuah lagu yang sarat makna akan besarnya jasa guru-guru kita, yang kelak menuntun kita menjadi orang besar.. Seorang guru muda yang disegani anak didiknya, dengan semangat mengajar dan besar rasa cintanya akan pengabdian kepada negara Indonesia, menciptakan lagu sederhana yang mampu menjadi penyulut semangat anak didiknya.

*************

Waktu berlalu, tahun begitu cepat berganti. Di masa sekolah menengah pertamaku, aku masih tidak berfikiran untuk mengukir prestasi yang ‘wah’ sebagai bentuk rasa cintaku pada tempatku menimba ilmu, begitupun masa-masa sekolah menengah atasku. Aku hanya mengikuti lomba tertentu saja, yang paling aku sukai, yaitu lomba mading. Walau beberapa kali menang, aku merasa cukup sampai disitu. Bahkan, kolotnya pikiranku yaitu ketika aku sudah cukup merasa bangga menjadi bagian dari sekolahku yang mempunyai segudang prestasi tanpa aku ikut andil dalam bagian pengharuman nama sekolahku.

Suatu hari, ketika aku tengah ikut dalam rapat penyusunan strategi untuk sebuah perlombaan tiga tahun lalu, ada satu kalimat guru pembimbingku yang membuatku terguncang. “Jangan hanya berani menginjak bayangan kesuksesan rekanmu.” Satu kalimat yang cukup menancap karena kalimat itu seperti menyindirku yang hanya berani menginjak bayangan kesuksesan rekanku. Yaa, bodohnya aku selama ini. Kusia-siakan waktuku untuk menggapai prestasi selama ini. Kuabaikan bahkan aku telah lupa terhadap lagu yang diciptakan guru sekolah dasarku yang seharusnya menjadi penyulut semangatku. Maafkan aku, Pak.

Kini aku pun menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Berada di lingkungan ini  cukup membuatku terkesan dengan kampusku yang begitu banyak menetaskan generasi-generasi berprestasi. Teringat akan waktu yang aku sia-siakan sebelumnya, sehingga terlintas dibenakku yang mendorong aku menjadi salah satu dari telur-telur yang menetas itu. Walaupun kuakui bahwa peluangku untuk menjadi salah satu ‘telur emas’ yang menetas itu tidaklah besar.

Waktu terus bergulir, hingga masuk awal tahun ketiga aku duduk di bangku kuliah tanpa menorehkan prestasi yang dapat mengharumkan nama kampusku. Aku tak putus asa. Setiap ada kegiatan yang sekiranya aku mampu lakukan, aku coba untuk ikuti, karena aku tak mau hanya melihat kesuksesan rekan-rekanku dan kakak tingkatku. Aku melakukannya diam-diam, tanpa mencari dosen yang harusnya dapat kujadikan pembimbingku. Aku tak puas untuk berdiam diri. Aku iri dengan kemampuan mereka yang berhasil. Apa yang kurang pada diriku? Huufh.. Tidak sepatutnya aku berkata demikian, tidak ada gunanya membandingkan diri dengan orang lain. Aku pasti memiliki potensi yang bisa aku gali. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatan dan waktu yang kusia-siakan di masa lalu. Aku harus memandang masa depan.

Di kampusku ada banyak dosen muda yang terus menggali potensi anak didiknya. Yap! Menurutku dosenku saat ini juga guruku. Mereka pahlawanku. Di masa-masa aku mulai memutuskan mimpiku untuk mengharumkan nama kampusku, tiba-tiba datang secercah harapan untukku. Tak main-main, dalam kesempatan ini, aku ditantang untuk perlombaan tingkat nasional oleh dosenku. Semangatku sontak kembali membara. Kujalani proses penyisihan dengan rasa berapi-api. Dibantu dengan bimbingannya, aku akhirnya tersenyum bangga ketika berhasil mewakili provinsi Sumatera Selatan ke tingkat nasional. Dan rasa banggaku bertambah ketika berhasil menyabet gelar juara. 
Tangisan haru dan bahagiaku tertumpah di panggung kemenangan. Inikah rasanya menjadi 'bintang berprestasi' ? Kuharap ini dapat menjadi batu loncatanku untuk menggapai mimpiku berikutnya. Kulihat dosen pembimbingku dan tim-ku ikut menitikkan air mata bahagianya.. Aku kembali teringat akan lirik “Sungguh besar jasa-jasamu,  Dalam mencapai cita-citaku, Kubersungguh mencari ilmu, Agar tak kecewa hatimu.. Bila ku telah besar nanti aku telah berhasil, Kan kusumbangkan jasaku untuk ibu pertiwi..” Terima kasih, Ibu, Bapak yang telah menuntun dan membimbingku hingga aku berhasil menjadi anak dari hasil 'telur emas' itu..



Aku semakin mantap. Kini, aku bertekad akan terus mengejar. Aku tak akan lagi menginjak bayangan rekan-rekanku yang terus menghindar ketika aku menginjak bayangannya. Aku mencapai mimpiku berkat kalimat, motivasi, dan restu dari guruku. Tahukah kalian bahwa mimpiku selama ini adalah saat menyatunya bayanganku dan rekanku..
Seandainya saja aku mundur dari rintangan yang muncul dihadapanku karena rintangan itu tampak terlalu sulit, maka berarti aku tak setia pada diriku sendiri..
Kesimpulannya, jangan takut mengambil resiko, atau bahkan gagal. Yang penting bukan menang atau kalah. Pada akhirnya, yang penting adalah cukup menyayangi  diri sendiri dan mempercayai jati diri. Hhe.. :)
Aku tahu ibu pertiwi-ku saat ini baru Sumatera Selatan. Namun aku harap aku benar-benar akan mampu menyumbangkan apa yang aku dapatkan untuk mengharumkan Indonesia.

"Kemuliaan bukan berarti tidak pernah jatuh., namun bangkit setiap kali kamu gagal." (Peribahasa Cina)
“Sukses adalah kepuasan mengetahui bahwa aku berusaha sekuat tenaga, aku memberikan segalanya, kemudian merelakan hasilnya kepada semesta.” (Donna Fargo)

**************
Tulisan ini dibuat dalam rangka Gerakan Indonesia Berkibar Blog Competition #GIBBlogCompetition yang diselenggarakan oleh @IDBerkibar

Jumat, 09 November 2012

EDISI NGOMPORIN NIKAH MUDA




"Pingin nikah mas, tapi jodoh nggak dateng2".
Sebagaimana rezeki, jodoh itu dijemput. Gak cuma ditunggu. Kalo da niat nikah, jemput jodohnya.

"Lha, cara jemput jodoh gmn mas?".
Perbanyak silaturrahmi, ikuti beragam organisasi, berteman dg banyak orang. Jgn cm ngurung diri di kamar., tapi inget batas lho..

"Pingin nikah mas, tapi takut habis nikah karir terhambat".
Hey, gak percaya dg Qur'an? Nikah itu narik rezeki. Bukan malah menghambatnya..

"Pingin nikah mas, tapi mau nyenengin ortu dulu".
Bukankah lebih keren kalo nyenengin lebih banyak orang: ortu, istri, dan mertua.

"Nafkahin diri sendiri aja belom bisa mas".
Astaghfirullaaah.. Dipake ngapain aja tuh masa mudanya?. Monyet aja bisa nyari makan sendiri :)

"Kenapa disaranin nikah muda?"
Biar agama kita disempurnakan oleh Allah di usia kita yg semuda mungkin. Bukankah nikah itu penggenap dien?

"Tapi nikah kan butuh bekal mas?"
Beneer. Mangkanya buruan nyiapin bekalnya di usia muda. Masa muda jgn cuma dipake twitteran doang :)

"Nikah itu sakral mas, perlu disiapin dg matang, gak bisa buat main2".
Pacar kamu itu anak orang. Jangan dimain2in. Emang enak disuruh nunggu? Buruan dinikah.

"Saya serius dg pacar saya. Beneran. Kami pun sudah berencana nikah kok".
Iya, tapi kapaaan?
"Sabar mas".
Sabar bermaksiat dulu maksudnya?

"Ih, pedes si mas nih".
Bukan pedes, tapi pahit
"Emang boleh nasehatin kalimat pahit gitu?"
Kata Rasul, "Katakan kebenaran walaupun pahit"

"Saya pacaran islami kok mas".
Eh, saya beneran pingin tahu gimana caranya pacaran yg islami itu. Setahu saya pacaran islami itu abis nikah.

"Si mas nih dari dulu ngomporin nikaah terus. Saya kan masih muda mas".
Justru nikah itu diperintahkan buat pemuda. Coba deh baca hadistnya.

"Tapi nikah kan buat yg mampu mas. Yg nggak mampu kan disuruh puasa dulu?"
Ada banyak pemuda yg mampu, pertanyaannya, kamu mampunya kapaan?

"Nunggu dimampukan dulu sama Allah mas".
Allah gak akan ngubah nasib hamba-Nya yg cuma twitteran sambil bilang, "Moga nasibku segera berubah".

"Jangan salah, saya sudah ikhtiar mas".
Kurang ngotot kali ikhtiarny -_-
"Udah ngotot".
Kurang doa kali.
"Udah doa".
Kurang cakep kali.
"Lho, kok nyindir".
Maksudnya kurang cakep hatinya, kurang cakep taqwanya, kurang cakep hubungannya dg Tuhan. Perbanyak tobat & terus ikhtiar, moga dipermudah.


"Ih, pagi2 bahas nikah".

Nikah tuh keren banget. Baru bangun tidur tp di sebelah sudah ada bidadari yg senyum menyambut, "Met pagi sayaaang".

"Ih pingiin :)"

Habis jamaah shubuh, jalan2 pagi ada yg nemenin. Mau keluar ada yg dipamitin. Sedang kerja ada yg doain. Pas tidur ada yg dicurhatin. Daripada boros dipake nraktirin pacar, mending dipake nafkahin istri. Nafkahin istri itu bernilai infaq. Nafkahin pacar? Jawab sendiri da :)


created : @ahmadrifairifan

MASIH PACARAN..? UDAH PUTUSIN AJA..



1. remaja, masa dimana bermekaran semua | tidak hanya cita ataupun rasa, tapi juga mulai dihampiri cinta.

2. awalnya dekat itu biasa, namun kala remaja berubah jadi getar asmara |
 segala terasa indah, setiap hari jadi berwarna.

3. salahkah cinta sebabkan rasa pada manusia? | tidak pernah sayang, tidak pernah Allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa.

4. Allah turunkan cinta bagi manusia sebagai tanda , bahwa kita bisa berkeluarga, mampu lanjutkan keturunan dalam satu bahtera asa.

5. maka tak ada yang salah dengan cinta, masalahnya adalah bagaimana kita menyalurkan cinta dlm bentuk pergaulan, khususnya remaja.

6. Islam mengatur agar tak salah jalan, arahkan manusia yg telah memiliki cinta untuk dikukuhkan dalam ikatan pernikahan.

7. pernikahan membuat segala bentuk cinta menjadi halal berpahala dan penuh kenikmatan,| sebagai hadiah Allah buat insan.

8. namun sebelum pernikahan, semua bentuk cinta dihijab larangan , karena Allah tau yg terbaik bagi manusia yg Dia ciptakan.

9. lalu bagaimana dengan remaja? | apakah yg harus dilakukan dengan cinta yang belum seharusnya? karena terhalang sekolah dan cita-cita?

10. bagi mereka Islam perintahkan berpuasa | jauhkan diri dari rangsangan fisik semacam memandang, mendekat atau berkhalwat ria

11. Rasul lisankan, "berdua-duaan dengan wanita tanpa disertai oleh mahram si wanita, yg ketiganya adalah setan” (HR Bukhari dan Muslim)

12. dari sini kita dapatkan hukum berpacaran | bahwa ia adalah interaksi yg dilarang dalam Islam secara mutlak.

13. tapi anak muda memang selalu biasa cari alasan | lupa bawa pembenaran itu beda tipis dengan kebenaran.

14. pacaran itu penambah semangat belajar "oh, teori, yg terjadi kebanyakan sebaliknya kawan, lagipula bukankah harusnya lillahi ta'ala?"

15. pacaran itu sebuah nada cinta, bukankah Allah Maha Cinta? | "betul, makanya Allah perintahkan nikah, bukan pacaran"

16. pacaran itu penjajakan pra-nikah | "itulah lelaki yg miskin tanggung jawab, 'penjajakan' dahulu, bukan komitmen akad nikah dahulu"

17. pacaran supaya tak beli kucing dalam karung , "banyak yg pacaran lama nikah sejenak saja, dan saya tak pacaran alhamdulillah langgeng"

18. pacaran itu bikin hidup lebih hidup | "iyakah? bukankah dominasi penggalau yg tewas bunuh diri karena berpacaran?"

19. pacaran itu bukan apa-apa kok, kita have some fun aja | "nah akhirnya, inilah perkataan paling jujur tentang pacaran"

20. saya pacaran untuk ajarkan Islam pada pacar | "Islamnya belum tentu sampai, maksiatnya sudah pasti, niat baik harus dikawani cara baik"

21. saya nggak lakukan apapun, tak pegangan tangan, tiada interaksi fisik | "sekalian sempurnakan tak usah pacaran lebih ok"

22. kaum lelaki, coba pikirkan, bila anda benar sayang padanya, tentu tak ingin kulitnya disentuh api neraka dengan maksiat pacaran bukan?

23. kaum lelaki, coba pikirkan, andaikan anda benar sayang padanya, tentu tak akan korbankan masa depannya dengan maksiat pacaran bukan?

24. kaum wanita, coba pikirkan, andaikan telah berani maksiat bahkan sebelum menikah, apa yang menjamin taatnya setelah menikah?

25. kaum wanita, coba pikirkan, tidak inginkah anda menjadi yang pertama bagi suami nantinya? pertama disentuh tangannya, hatinya?

26. bagi remaja, cukuplah interaksi lelaki-wanita saat syariat bolehkan, tegur sapa secukupnya, tiada lebih daripada itu.

27. bagi remaja, jadi bila memang cintamu karena Allah, maka engkau sanggup bertemu karena Allah, pula sanggup berpisah karena-Nya

28. bagi remaja, bila belum sanggup menikah, maka cinta harus ditangguh | pacaran? udah putusin aja...

Sumber : Chirpstories by Felix Siauw

Asmara Anak Rohis



Anak Rohis juga manusia. Punya hati, punya rasa. Juga, tentu punya rasa suka dan bisa jatuh cinta. Huhuy! Justru kalo anak rohis nggak pernah bisa merasa jatuh cinta adalah kagak normal, atau jangan-jangan bukan makhluk hidup. Watts..! Ya iyalah, kalo masih merasa manusia sih ya pasti punya rasa cinta. Hewan aja punya kok. Selama masih hidup. Tapi tentu manusia punya aturan dalam mengekspresikan cintanya. Ada syariat yang harus ditaati. Kalo hewan nggak ada syariat yang harus mereka taati. Bener lho..!!

Kalo manusia sih untuk mencintai manusia lainnya harus jelas aturan mainnya. Kalo hewan? Nggak ada. Emang pernah dengar ada kambing jantan yang tertarik dengan kambing betina terus mereka mengikatnya dengan khitbah untuk seterusnya menikah dan diramein dengan pesta ngundang tamu dan diiringi hiburan nasyid..? Hihihi.. film kartun kaleee..!

Bro en Sis, karena aktivis Rohis (kerohanian Islam) juga punya rasa suka dan rasa cinta, pasti mereka pernah dong ngalamin yang namanya DDA alias debar-debar asmara. Meskipun dalam mengekspresikannya agak sedikit beda ama remaja umumnya. Kalo remaja umumnya langsung kenalan, terus janjian dan jadian deh dalam ikatan bernama pacaran. Kalo anak Rohis? Kalo untuk pacaran secara terang-terangan kayaknya jarang ada. Mungkin mereka malu. Tapi kalo yang dikamuflase dengan istilah “pacaran islami” kayaknya banyak deh. Ini juga sering dianggap sebagai pembenaran atas aktivitas yang dilakoninya. Halah!

Ngaji Doyan, Pacaran Kuat

Nah lho, nggak salah nih ngasih subjudul? Hehehe… kamu jangan protes dulu dong. Banyak juga lho yang ngaji tapi pacarannya minta ampun kuatnya. Ini khusus berlaku buat yang ngajinya cuma ikut-ikutan or emang nggak paham. Termasuk yang ngerasa udah tahu tentang hukum Islam, tapi nggak sampe paham dan cuma teori doang, sementara praktiknya nol gede. So, cuma modal semangat aja, tanpa pengen paham lebih dalam. Kadang, ada juga lho yang emang nafsunya lebih gede ketimbang nalarnya. Maaf ye bagi yang kesinggung. Itu tandanya dirimu masih manusia. Ya iyalah, kalo monyet sih dihina ama dipuji tetep diem aja kagak ngarti, boro-boro tersinggung. Jadi, kalo masih tersinggung berbahagialah karena kamu masih manusia. Pletak!

Oya, gaya pacaran aktivis Rohis agak lain. Awalnya sih ukhuwah, tapi kebablasan jadi demenen. Mulanya cuma bergaul sesama pengurus pengajian, lama-lama muncul benih-benih cinta. Bersemi dalam dada dan melahirkan kerinduan. Huhuy! Ati-ati, bisa gaswat..!

Sobat muda muslim, jangan heran or jangan kaget, sebab siapa pun orangnya, termasuk anak ngaji, bisa tumbuh dalam dirinya rasa cinta, rasa sayang, juga pengen memiliki begitu ngelihat lawan jenisnya. Ser-seran aja dalam dada kalo kebetulan bertemu di masjid or di perpustakaan. Bergetaran dalam jiwa (apalagi kalo ditambah naik bajaj, dijamin vibrasinya lebih kuat tuh! Halah!). Pokoknya, seperti ada yang bergejolak dalam hati. Tapi sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata (cieee…). Pokoknya, bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng deh. But, itu wajar kok. Namanya juga manusia. #SUER

Malah boleh jadi, kalo iman kamu nggak kuat-kuat amat, bisa-bisa kecemplung melakoni aktivitas pacaran layaknya mereka yang masih awam dengan ajaran Islam. Maklumlah sobat, kalo nafsu udah jadi jenderal, akal sehat jadi keroconya. Celaka dua belas euy!

Saat Cinta Mulai Bersemi

Cinta itu ibarat jelangkung. Datang nggak dijemput, pulang pun nggak dianter. Suka tiba-tiba aja datangnya. Udah gitu, nggak mengenal status lagi. Mau doi pelajar, guru, tokoh masyarakat, anak ngaji, ulama, dan bahkan kepala negara. Cinta bakalan tumbuh di dada mereka. Kamu masih inget kali ye kasusnya Bill Clinton dan Monica Lewynski? Hmm.. itu perselingkuhan yang mengguncang Gedung Putih beberapa tahun lalu. Geger seisi dunia. Awalnya, jelas rasa cinta. Meski akhirnya disalip oleh hawa nafsu.

Hati-hati lho, anak ngaji juga bisa tergoda saat cinta mulai bersemi. Ehm..ehm.. (ditambah pura-pura batuk nih) kamu jadi sering tampil klimis kalo pergi ke sekolah or kampus. Dandanan jadi rapi jali. Pendek kata, pengen tampil beda dan sempurna di hadapan sang pujaan hati. Sering terjadi lho. Cinta lokasi sesama aktivis pengajian. Wajar euy, sebab cinta itu naluriah. Udah built-in saat manusia diciptakan oleh Allah Swt. Dalam salah satu firmanNya disebutkan:“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,” (QS Ali Imraan [3]:14)

Cuma masalahnya, saat cinta mulai bersemi, jarang ada yang bisa bertahan dari godaannya yang kadang menggelapkan mata dan hati seseorang. Jangan heran dong kalo sampe ada yang nekat pacaran. Wah, aktivis pengajian kok pacaran? Malu atuh!

Kalo udah gitu, bisa ngerusak predikat tuh. Bener. Sebab, serangan kepada orang yang dianggap tahu dan paham agama lebih kenceng. Jadi kalo ada aktivis pengajian (anak Rohis) yang pacaran, orang di sekililing mereka dengan sengit mengolok-olok, mencemooh, bahkan mencibir sinis. Kejam juga ya? Bandingkan dengan orang yang belum paham agama, atau nggak aktif di organisasi kerohanian Islam, biasa-biasa aja tuh. Sobat, inilah semacam ‘hukuman sosial’ yang kudu ditanggung seseorang yang udah dipandang ngerti. Padahal, sama aja dosanya. Tapi, seolah lebih besar kalo itu dilakukan oleh aktivis pengajian. Gawat!

Jadi hati-hati deh, jangan sampe kamu kebablasan jadi demenan, padahal kamu niat awalnya mau menjalin ukhuwah sesama aktivis Rohis. Jadi, jelas emang kudu ada aturan mainnya. Nggak sembarangan bergaul, lho.

Jangan Main Api Dong!

Iya, bara bisa jadi api yang berkekuatan besar dalam membakar apa saja yang ada di hadapannya, manakala kita rajin ngipasin. Makanya, jangan main bara api nafsu, bisa berabe dan bikin banyak dosa. Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! (hei! kok kayak Bang Napi sih? Hihihi…). Gaul bebas bisa bablas euy!

Oke deh, supaya gaul kamu sesama aktivis pengajian selamat di dunia dan di akhirat, ada beberapa poin yang kudu diperhatikan. Jangan sampe ukhuwah malah berubah jadi pacaran.

Pertama, kurangi frekuensi pertemuan yang nggak perlu. Memang, kalau sudah cinta, berpisah sejam serasa 60 menit, eh maksudnya sewindu (lama amat! Hiperbolis nih!). Bawaannya pengen ketemu melulu. Ini nggak sehat, Bro. Perbuatan seperti itu bukannya meredam gejolak, tapi akan memperparah suasana hati kita. Pikiran dan konsentrasi kita malah makin nggak karuan. Selain itu bukan mustahil kalo kebaikan yang kita kerjakan jadi tidak ikhlas karena Allah. Misal, karena si doi jadi moderator di acara pengajian, eh kita bela-belain datang karena pengen ngeliat si doi, bukan untuk nyimak pengajiannya itu sendiri.

Yup, kurangi frekuensi pertemuan, apalagi kalau memang tidak perlu. Kalo sekadar untuk minjem buku catatan, ngapain minjem pada si doi, cari aja teman lain yang bisa kita pinjam bukunya. Lagipula, kalo kamu nggak sabaran, khawatir ada pandangan negatif dari si doi. Bisa-bisa kamu dicap sebagai ikhwan agresif atau akhwat yang genit. Zwing…zwing.. #GUBRAK!!

Kedua, jangan ‘menggoda’ dengan gaya bicara dan penampilan yang gimanaa.. gitu. Jadi jangan saling memberi perhatian. Bisa-bisa diterjemahkan lain lho. Ati-ati deh. Firman Allah Swt. (yang artinya):“Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan), nanti orang-orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang baik.” (QS. al-Ahzab [33]: 32)

Ketiga, menutup aurat. Nggak salah neh? Kalo aktivis kan udah ngeh soal itu Bang? Bener. Harusnya memang begitu. Tapi, banyak juga yang belum tahu bagaimana cara mengenakan busana sesuai syariat. Akhwatnya masih pake kerudung gaul yang ‘cepak’ abis! (kalo yang bener kan ‘gondrong’. Maksudnya lebar gitu lho.). Iya, kerudungnya aja modis banget. Pake gaya dililit ke belakang, dan untung aja nggak ditarik lagi ke atas (gantung diri kalee..). Terus, bibirnya dipoles lipstik tebel-tebel. Bedakannya menor pula. Minyak wanginya? Bikin ikan sekolam teler! (apa hubungannya?)

So, buat para akhwat, jangan tabarujj deh. Duh, kebayang banget lucunya kalo aktivis pengajian tabarujj alias tampil pol-polan dengan memamerkan kecantikannya. Allah Swt. berfirman: “…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzab [33]: 33)

Keempat, kurangi berhubungan. Mungkin ketemu langsung sih nggak, tapi komunikasi jalan terus tuh. Mulai dari sarana ‘tradisional’ macam surat via pos, sampe yang udah canggih macam via telepon, HP, dan juga internet. Wuih, ketemu langsung emang jarang, tapi kirim SMS dan nelponnya kuat. Apalagi kalo urusan chatting, pake ada jadwalnya segala. Udah gitu, kirim-kirim e-mail pula. Hmm… jadi tetep berhubungan kan? Emang sih bukan masuk kategori khalwat. Tapi itu bikin suasana hati makin nggak kondusif karena mikirin si dia aja. Nggak percaya? Don’t be tried! Jangan dicoba!

Kelima, jaga hati. Ya, meski sesama aktivis Rohis, bisikan setan tetap berlaku. Bahkan sangat boleh jadi makin kuat komporannya. Itu sebabnya, kalo hatimu panas terus karena panah asmara itu, dinginkan hati dengan banyak mengingat Allah. Mengingat dosa-dosa yang udah kita lakukan ketika sholat dan membaca al-Quran. Firman Allah Swt.: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang.” (QS ar-Ra’du [13]: 28)

Oke deh, kamu udah punya modal sekarang. Hati-hatilah dalam bergaul dengan teman satu pengajian. Jaga diri, kesucian, dan kehormatan kamu dan temanmu. Jangan nekat berbuat maksiat. Kalo udah kebelet, (emangnya buang hajat?) segera menikah saja kalo emang udah mampu. Kalo belum mampu karena masih sekolah? Banyakin aktivitas bermanfaat dan seringlah berpuasa.

Emang sih kalo pengen lebih mantap solusinya, kudu ada kerjasama semua pihak; individu, masyarakat dan juga negara. Hmm.. soal cinta juga urusan negara ya? Yup, negara wajib meredam dan memberantas faktor-faktor yang selalu ngomporin masyarakat untuk berbuat yang negatif. Jadi, jangan sampe ukhuwah kita berubah jadi demenan! Pokoknya, malu atuh kalo ngajinya getol, tapi pacaran juga puool.

“Gaul Islam”

APA YANG KAU CARI..??



Bismillahirrahmanirrahim

Jika kamu memancing ikan..
Setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia kembali ke dalam air begitu saja..
Karena ia akan sakit oleh karena luka ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup...

Begitu juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang..
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja..
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatmu..

Jika kamu menadah air, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh.. cukuplah sekadar keperluanmu.. 
Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kamu menambalnya.. 
Lalu akhirnya ia dibuang,, sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat digunakan lagi..

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya..
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa..
Anggaplah dia manusia biasa..
Apabila sekali dia melakukan kesalahan, bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya…
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya..
Sedangkan jika kamu memaafkannya bisa jadi hubungan kamu akan terus berlanjut..

Jika kamu telah memiliki sepiring nasi yang pasti baik untuk dirimu, mengenyangkan..
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan..??
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak bisa memakannya..
Kamu akan menyesal..

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan..
yang pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu..
Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain..
Terlalu mengejar kesempurnaan..??
Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia menjadi milik orang lain..
Kamu juga yang akan menyesal..


zev '03

Sabtu, 03 November 2012

TA'ARUF, NIKAH TANPA CINTA...?



Pernikahan merupakan ibadah yang memiliki tempat mulia di sisi Allah swt. Tak sedikit dalam bingkai syariat membicarakan tentang pernikahan, apakah itu di dalam Al Quran ataupun hadist-hadist Rasulullah saw. 
Ketika pernikahan ini berhubungan dengan ibadah maka ibadah tersebut hanyalah akan bernilai di sisi Allah swt jika sesuai dengan bingkai syariat yaitu bingkai Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. Tentunya kita tidak ingin serangkaian ibadah ini menjadi tertolak dikarenakan kita melakukan hal-hal yang tidak disandarkan pada Al Quran dan sunnah Rasulullah saw bukan hanya saat prosesi pernikahan saja tapi juga bagaimana jalan menuju pernikahan tersebut.

Apa itu ta’aruf?
Ta’aruf dalam makna umum yang kita ketahui bersama adalah perkenalan, lalu kemudian makna ini dipersempit menjadi proses perkenalan menuju pernikahan dikalangan aktivis dakwah.

Proses ta’aruf yang digunakan sebagai jalan menuju pernikahan tentulah bukan proses seperti orang pacaran atau istilah PDKT (pendekatan). Tapi kemudian proses ini dibingkai sedemikian rupa sehingga nilai ibadah dari proses hingga menuju pernikahan tetaplah terjaga. Dan pastinya proses taaruf yang dibingkai dengan syariat ini bukanlah seperti “taaruf”nya ustadz-ustadz selebriti di tipi.

Proses ini tidak mengenal yang namanya saling sms-an apalagi bbm-an, dua-duaan jalan-jalan apalagi baca quran, belum lagi sering cheting dan fecebookan dengan bingkai taaruf yang berujung tidak jauh beda dengan yang namanya pacaran. Walaupun ngebangunin buat tahajud malam, tetap saja ini bukanlah sebuah proses yang syar’I menuju pernikahan.

Ta’aruf, nikah tanpa cinta?
Berarti ta’aruf itukan menikah tanpa ada cinta? Pastilah akan muncul pertanyaan yang sangat besar didalam benak. Nah, sebelum dibahas lebih jauh, baca bismillah dulu. Semoga setelah membaca sedikit penjelasan singkat ini pacarnya mau diputusin, atau kalau sering sms-an ama ikhwan atau ikhwat bisa disadari bahwa itu bukanlah cinta tapi justru menghapus cinta bahkan bisa menjadi nista.

Ketika kita berbicara tentang cinta, maka kita akan menemukan sesuatu yang abstrak didalamnya. Apakah benar cinta itu karena cantik, karena harokinya luar biasa, karena pintar, atau karena alasan-alasan lainnya? Atau itu justru sebenarnya lebih kepada rasa suka yang dibalut oleh hawa nafsu semata, karena ketika hal-hal kita sukai tersebut tak kita dapati lagi maka hilang pulalah rasa suka tersebut.

Lalu bagaimana mungkin seseorang itu bisa menikah tanpa cinta?
Yang kita pahami selama ini adalah bahwa rasa cinta itu ada pada suatu pertemuan dimana membuat jantung berdebar kencang dan dada terasa sesak dibuatnya, padahal itu bukanlah cinta.

Allah swt mangatakan didalam Al Quran :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (an-Nuur : 26)

Jika kita bersama mencoba untuk memahami apa arti cinta pada ayat di atas maka sejak kapankah cinta itu ada hingga kemudian Allah swt mempertemukan cinta itu dalam bingkai yang bernama pernikahan? Dan kemudian harus percayakah kita dengan proses yang namanya pacaran atau taarufan gaya ustadz selebritis yang ada? Dengan argument bahwa ini adalah proses memupuk cinta sebelum menuju pernikahan?

Cinta itu ternyata telah ada jauh sebelum pernikahan itu ada. Allah swt akan mempertemukan orang-orang yang mencintai apa-apa yang sama-sama mereka cintai. Ketika sama-sama mencintai maksiat maka itulah yang menjadi landasan cinta mereka dan begitupula ketika sama-sama mencitai Allah swt maka itulah yang akan menjadi landasan cinta mereka sehingga tidak ada lagi hal yang perlu ditumbuhkan atau dipupuk dan justru hanya tinggal menuai hasil setelah proses pernikahan dilangsungkan.

Jadi benarkah taaruf itu menikah tanpa cinta?
Wallahualam

Faguza Abdullah
Sumber : Islamedia
 
Cafe de Rahma15 Blogger Template by Ipietoon Blogger Template