Taman
Gelora Sriwijaya, Palembang, 31 Mei 2013
20:45
WIB
“Rasa
cemburumu menunjukkan bahwa kamu tidak mempercayai aku lagi. Aku hanya menemani
dia. Bukankah aku udah minta izin sama
kamu?”
“Apa
salah aku mengatakan kalau aku cemburu? Selama kita berhubungan, aku belum
pernah mengatakan padamu bahwa aku cemburu, bukan? Ini yang pertama aku
katakan, aku sudah benar-benar tak bisa memendamnya. Apakah kamu tak mengerti
tatapan mataku yang sebenarnya tak mengizinkanmu? Sebelumnya, kamu bilang kamu
tahu betul aku, kamu tahu gerak-gerik
aku, tapi mengapa untuk yang satu itu kamu malah pura-pura tak mengerti?”
“Aku
udah capek jelasin sama kamu. Dia sama aku nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Tapi
aku tahu dan aku bisa melihat bahwa kalian ada apa-apa.”
“Sudahlah.
Intinya, kita itu sudah seperti keramik yang retak, yang memiliki celah, yang
kalaupun ditambal, masih akan nampak celahnya. Maaf. Aku fikir, kamu terlalu
baik buat aku. Aku juga merasa aku nggak pantes buat kamu. Kamu layak dapet
yang lebih dari aku.”
“Maksud
kamu...?”
“Ya.
Aku mau menyudahi hubungan ini. Kamu belum berubah. Aku ingin melihat dirimu
yang seperti ini berubah. Kamu butuh waktu, Sayang.”
“...”
“Percayalah,
akan ada yang terbaik untukmu.”
“...”
Lagi-lagi
aku bergeming. Aku kehilangan kata-kata. Sungguh, aku lebih pandai bermain kata
dalam tulisan daripada ucapan langsung, karena aku biasanya tak mampu bicara
atas apa yang aku rasa.
Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku.’
Apa iya? Harusnya, kalau benar-benar
sayang dan cinta aku, kamu tak akan pernah berkata seperti itu, Sayang. Mengapa
tak kamu tunjukkan kamu tunjukkan cintamu itu dengan berusaha lebih baik untuk
menjadi yang terbaik buat aku? Kamu memuakkan, Sayang. Sungguh tak pantas mengatasnamakan
hal itu untuk pergi. Alasan klasik. Kamu pikir ini sinetron, hah? Hidup ini
nyata, dan butuh kejujuran. Mengapa tak kamu pantaskan dirimu dan katakan
padaku bahwa kamu mau berusaha menjadi yang terbaik buat aku? Pergilah. Tak ada
gunanya alasanmu itu. Toh, pada akhirnya nanti yang tertinggal hanya kenyataan
bahwa kamu pergi, dan aku terluka, bukan?
Sayangnya
juga aku hanya mampu berkata dalam hati. Oh, Tuhan. Bodohnya aku.
“Pergilah.
Terima kasih atas beberapa waktu kita belakangan ini, Tuan.”
Aku
kembali tersenyum, menggigit sudut bibirku agar tertahan air mata yang hendak
meluap dari bendungannya. Aku berusaha tenang, berusaha menatap matanya.
Mencari sinar kebohongan dari pancaran matanya atas apa yang barusan
diucapkannya. Aku gagal. Meski penglihatanku terhalang genangan air di pelupuk
mata, namun sekilas terlihat, Tuanku yang berubah. Miris.
“Aku
antar kamu pulang, ya?”
Aku
tak mengangguk, pun tak menggeleng. Hanya melangkahkan kaki dengan gontai menuju
sepeda motor miliknya, lalu duduk dengan perasaan berkecamuk. Udara malam yang
kian menusuk, seakan ikut menancapkan rasa ngilu. Aku bahkan tak benar-benar
memperhatikan jalanan, sehingga tak menyadari bahwa kami telah sampai di
rumahku.
“Aku
pulang, ya. Jaga dirimu baik-baik.”
“Hmm...”
“Boleh
aku mencium keningmu untuk terakhir?”
“Tidak.
Pulanglah. Hati-hati di jalan.”
Kutarik
kedua sudut bibirku agar membentuk sebuah lengkungan senyum. Senyum hambar yang
kuberikan padanya di malam itu, malam yang harusnya menjadi malam peringatan
tiga bulan kebersamaan kami. Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa. Kubuka
pintu pagar rumahku, lalu aku menoleh untuk melihat wajah terakhirnya sebagai
kekasihku sebelum akhirnya aku masuk dan mengunci pintu rumahku.
GLEK!
Aku tersadar, ada Bunda yang sudah menantiku di kursi sofa berwarna maroon
kesukaannya. Semoga Bunda tidak melihat wajah muramku. Tatapannya benar-benar
menyelidik. Huft.
“Pulang
sama siapa, Emi?”
“Sama
Niko, Bunda.”
“Lho?
Niko nggak mampir dulu? Kok tumben, sih.”
“Iya,
soalnya buru-buru. Kakaknya mau berangkat, jadi dia mau nganter ke bandara.”
“Emangnya
ada penerbangan pukul 10 malem?”
Ups.
Bego deh bego. Kok nggak bisa cari alasan yang masuk akal sih. Kalo lagi bloon
kelewatan deh akunya.
“Hmm..
Maksudnya kakaknya mau dianter ke rumah keluarga yang deket di bandara, Bunda.
Penenrbangannya pagi, jadi supaya nggak kena macet, gitu.”
“Oh
gitu. Ohya, terus gimana hadiah yang Bunda bantuin cari buat monthversary
kalian? Niko suka nggak?”
“Iyalah.
Niko suka banget, Bunda. Pilihan Bunda emang top markotop deh. Hehehe.”
“Bagus
deh kalo gitu. Ngomong-ngomong, Niko
ngasih apa ke kamu, Sayang?”
“Ada
deeehhh. Bunda kepo, ih.”
“Duh,
sama Bunda sendiri gitu.”
“Emi
ke kamar dulu ya, Bun. Mau cerita sama Kak Cinta.”
“Jangan
digangguin, lho. Kak Cinta jam segini biasanya lagi belajar.”
“Sok
tahu deh, Bunda. Jam segini tuh Kak Cinta malah lagi luang, huuu. Dah, Bunda.
Good night, love you, Bunda.”
“Love
you too,Emi. Sampein salam kangen Bunda buat Kak Cinta, ya.”
“Oke,
deh.”
Kuhempaskan
diriku ke atas kasur. Kutumpahkan tangisanku hingga membanjiri bantal yang
kudekap erat. Terngiang detik-detik ucapan Niko yang mengakhiri hubungan kami.
Hubungan yang baru menginjak bulan ketiga.
Maafin
Emi, Bunda. Hadiahnya nggak Emi kasih sama Niko. Emi belum sempet ngucapin “Happy
Monthversary” sama Niko, karena Niko udah keburu bilang udahan sama Emi. Emi
emang dapet hadiah dari Niko, Bunda, tapi hadiah ini bener-bener bukan yang Emi
harapkan.
***
Aku
Lucie Orabelle Victorine Emmy. Terlalu aneh dan berat nama itu bagiku. Semuanya
diambil dari bahasa Prancis. Entah mengapa orangtuaku lebih memilih nama dari
luar negara ketimbang memberiku dengan nama yang lebih Indonesia. Meski namaku nggak
Indonesia banget, tapi untuk soal wajah dan postur tubuh, aku Indonesia banget,
lho. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang namanya sangat simple dan tak
seribet namaku. Ia bernama Cinta. Usiaku terpaut dua tahun darinya. Aku sudah
menginjak kepala dua, ironisnya belum pernah merasakan indahnya masa berpacaran.
Meski banyak pria yang silih berganti mencoba untuk memasuki ruang kosong di
sudut hatiku, namun tak ada yang bisa melakukannya. Hingga akhirnya seorang
pria dengan manisnya menawarkan cinta yang mampu merobohkan kerasnya dinding
hatiku. Aku tercelup tinta merah jambu untuk pertama kalinya. Semua berlalu bak
cerita dalam dongeng. Indah. Kalian mau mendengar ceritaku?
Pada
zaman dahulu kala, terdapat seorang gadis yang belum mau peduli tentang cinta
lawan jenis. Lalu ia bertemu pangeran yang meruntuhkan kerasnya tembok
pendirian itu.. Sang pangeran yang membawa keajaiban bagi sang gadis. Sang
gadis terlalu bahagia tanpa disadarinya bahwa sang pangeran hanya membawanya
merasakan lambungan sesaat kemudian menghempaskan sang gadis ke jurang paling
dalam. Tamat.
Aku
berfikiran, bahwa kita memang tidak selalu menemukan keajaiban dalam hidup,
tapi untukku, menghabiskan hari bersama dia (dulu) indah. Hanya itu yang mampu kuingat.
Tak jarang kita memang hanya bisa sebatas memiliki hati dan cintanya, tapi
tidak untuk jalan hidupnya, bukan? Huft. Menggelikan, bukan?
Dulu engkau
sosok pangeranku
Yang merajut
cinta dalam keajaiban
Kini kan ku
selesaikan dongeng ini
Gomenasai ku
kan pergi
Tak perlu kau
sesali yang telah terjadi
Hadapi hidup
ini
Hari-hari kan
terus berganti
Kisah kita
kan jadi memori
(Achikochi –
Ku Kan Pergi)
Palembang, 24 Juni 2013
00:13 WIB
“BUZZZ!!!”
“Ah.. Nongol juga
lu kak. Kemana aja lu? Sibuk banget kayaknya?”
“Iya nih, lagi
buat laporan. Gimana kabar Indonesia?”
“Idiihh... Gaya
banget lu Kak. Mentang nih ye yang lagi di luar Indonesia.”
“Hahahaha. Lu
pikir gue liburan. Pusing tau dikejer deadline laporan belakangan ini.”
“Terus, kapan lu
wisuda? Mau lu gue duluin?”
“Silahkan aja.
Jangan aje lu nikah ngeduluin gue.”
“Sialan lu, Kak.
Calonnya aja udah pergi.”
“Lho? Jadi Niko
bener ninggalin kamu?”
“Iya, Kak L Parah lu ah. Orang mau
cerita nggak nongol-nongol.”
“Sorry deh sorry.
Kakak pikir kamu cuma nyampah doang di blog. Kamu kan suka banget tuh bergalau
ria di blog setelah dengerin curhat-curhatnya temen kamu, jadi aku pikir juga
beberapa waktu terakhir kamu lagi nuangin hasil curhatan temen kamu.”
“Nggak pekaan
banget lu Kak. Huuh..”
“Wanna tell to
me..?”
Percakapan aku
dan Kak Cinta via jejaring sosial berlangsung hingga fajar menjelang. Yap! Kak
Cinta sedang berada di negara tetangga, menjadi mahasiswa pertukaran di
semester ini. Aku memang hanya mau cerita perihal keluh kesah dan bahagiaku
pada Kak Cinta. Selain itu, aku lebih sering menuangkan isi hati pada linimasa
twitter atau tumblr. Tidak kepada Bunda, pun tidak kepada teman-temanku. Meski
aku tak punya teman untuk berbagi unek-unek, tapi aku cukup merasa lega jika
ada yang membaca ‘sampah’ yang aku buat.
***
Palembang, 28 Juli 2013
Dua bulan telah
berlalu sejak kisah cintaku kandas, dan entah hingga saat inipun aku masih galau
karenanya. Ia mampu merubah total diriku. Aku sudah berusaha bangkit, namun aku
malah makin terpuruk. Teman-teman dekatku berupaya dengan cara mereka untuk
menghiburku. Mereka berhasil membuatku tersenyum, namun kala mereka tak
disisiku, aku kembali hanyut dalam kegalauan. Oh Tuhan, inikah rasa sakitnya patah
hati? Aku mencoba beraktivitas seperti biasa, lalu kembali membuka halaman
tumblr-ku. Sudah sebulan ia tak kusentuh. Aku terhenti di sebuah tulisan saat
men-scroll halaman berandanya.
Gadis itu selalu stabil. Hatinya selalu dingin meski wajahnya selalu menunjukkan senyum. Gadis itu kokoh, gadis itu independen. Gadis itu rasional. Sampai ia jatuh cinta, pada pria pertama yang meluluhkan dirinya. Yang mampu menggetarkan bongkah es kecil di dadanya. Yang membuat hati, untuk pertama kali mengalahkan rasionya. Temannya berkata,"Bodoh, wanita itu dipuja bukan memuja. Mana harga dirimu, angkat tinggi-tinggi!"Gadis itu diam, namun bukan tertampar. Temannya tak tahu, ia lelah terus memuja harga dirinya. Menaruh gengsinya di tempat paling tinggi Karena menjadi dingin berbanding terbalik dengan bahagia Dan sekali ini, ia tak ingin menjadi ratu es yang tak tersentuh, Atau gadis independen yang membuat semua orang berhenti menahan napas, kagum, terintimidasi Ia ingin eksplosif, ingin bertanya-tanya, ingin penasaran Ingin bahagia.Sesalah itukah?to my sister : our midnight talk by chit-chat over a cup of Luwak Coffee
DEG!
Aku meleleh
membacanya. Aku kembali menangis. Tulisan itu dibuat Kak Cinta untukku setelah
aku menceritakan semua hal padanya perihal hubunganku dan Niko. Terima kasih,
Kak. Terima kasih untuk mengerti aku.
“BUZZZ!!!”
Tak ada respon
dari Kak Cinta.
“BUZZZ!!!”
Masih tak ada
respon hingga beberapa waktu. Untuk menghilangkan rasa kesal menunggu, kubuka
salah satu web browser, dan kuketikkan alamat salah satu media sosial, twitter.
Bahkan sosmed satu inipun tak aku sentuh. Aku benar-benar tak berminat pada
media sosial manapun sejak peristiwa dua bulan silam.
“aku masih
bernyawa :)”
Iseng-iseng
kubuat tweet seperti itu. Aku tersenyum sendiri membaca tweet-tweetku kala
bersama Niko. Terlintas dibenakku untuk mencari tahu kabarnya. Lalu, dengan
segera tanganku dengan ringannya mengetikkan username Niko.
1 Message
Received.
Tulisan itu
muncul di layar ponselku. Seketika kuraih ponsel tersebut lalu membukanya.
Pengirim : 081995115xxx
“Jangan coba
mencari tahu tentang Niko lagi, Emmy.”
Hah? Aku terperangah.
Lalu dengan segera kubalas pesan singkat itu.
“Km syp?”
“Aku masa depanmu.”
“Brhnti bcandanya.
Ak serius. Bgmn kmu tw ttg Niko?”
“Aku sudah
katakan padamu, bahwa aku masa depanmu.”
“WTV.”
“Pokoknya, jangan
coba mencari tahu, Ratu Kepo.”
Sialan. Itu kan
julukan yang diberikan teman-teman untukku? Apa mungkin dia satu dari temanku?
Tapi gaya dan cara SMS-nya tak kukenali. Dia menggunakan bahasa yang tak
disingkat-singkat. Bagaimana aku bisa tahu. Kututup layar web browser-ku, lalu
aku nonaktifkan ponselku. Sekali lagi kucoba menghubungi Kak Cinta.
“BUZZZ!!!”
10 menit, 20 menit,
hingga 40 menit berlalu. Tak ada respon. Kututup laptopku dengan keras. Kubantingkan
diriku pada kasur dengan posisi menelungkup. Ada apa ini? Kenapa aku menuruti
komando pengirim SMS yang tak jelas itu? Ada perkembangan apa pada Niko?
Pikiranku berkecamuk tak karuan. Aku baru mengirim tweet dalam tiga kata
setelah sekian lama, lalu tak berapa lama datang pesan yang menyuruhku untuk
tak mencari tahu tentang Niko. Apa dia memantauku dari jauh? Hiiih. Aku
bergidik.
“Hei.”
“AAAAARRRGGGHHHH..!!”
“Apaan sih, Emmy.
Lebay gitu deh.”
“Duh, Bunda
ngagetin tau. Untuk nggak tewas di tempat nih Emmy.”
“Berlebihan deh
kamu. Ngapain sih main tengkurep-tengkurep gitu, sampe Bunda panggil nggak ada
jawaban.”
“Nggak ngapa-ngapain,
Bun. Cuma tengkurepan aja. Hehehehe.”
“Ohya, udah beli
apaan buat hadiah lima bulan jadiannya kamu sama Niko?”
Mampus! Bunda
bahkan belum tahu kalau aku dan Niko udahan dua bulan lalu. Bunda kok nggak
peka banget ya anaknya udah uring-uringan selama ini.
“Belom, Bunda.
Masih belom kepikiran mau kasih apa. Ada saran?”
“Hmm... Kamu kok
tanya Bunda, sih? Bunda kan kurang tau seleranya Niko, selain sambel tahu
buatan Bunda.”
“Yaudah, gimana
kalo hadiahnya sambel tahu spesial dari Bunda. Hehehe.”
“Ngaco kamu, ah! Itu
sih nggak perlu dikasih waktu anniv-nya kalian.Gimana kalo kamu kasih lukisan
aja, tapi kamu yang buat. Terus kirim deh ke kotanya.”
“Aku lagi nggak
ada mood buat ngelukis, Bundaku tersayaaaaannnnngggg. Bulan ini nggak pake
hadiah dulu deh, nggak salah kan?”
“Ih, kamu kok
gitu sih, Emmy. Walaupun kalian jarang ketemu, bukan berarti cinta kalian juga
moody-an, kan?”
“Iya iya deh.
Ntar Emmy pikirin apa yang mau dikasih. Emmy mau tidur, Bunda belom mau keluar
nih?”
“Bunda diusir nih
ceritanya. Jahat banget sih jadi anak.”
“Sok imut deh
Bunda. Hahaha. Sini Emmy cium.”
Kecupan balik di
dahi dari Bunda membuatku terpejam. Menggigit bibir dan menahan air mata. Bunda
benar-benar percaya padaku yang mengatakan bahwa Niko sekarang kuliah di luar
kota, dan kami LDR-an. Tidak, Bunda. Niko masih disini. Masih di kota ini.
1 Message Received
081995115xxx
“Jika sabar
menghilangkan gemuruh-gemuruh besar, semoga masih tersisa satu cangkir ruangan,
untukku bertahan atas penantian yang panjang.”
Aku tertegun
kembali. Siapa pengirim misterius ini?















