HARI KETIGA dimulai pukul 6.00
WIB. Peserta sudah berkumpul di lapangan sambil olahraga kecil dengan tema pakaian
biru! Hampir setengah jam pemanasan, kami langsung memasuki bus untuk berangkat
menuju Kambang Iwak, lokasi yang jadi tujuan youth walk, karena disana
merupakan area car free day dan memang selalu ramai dikunjungi orang Palembang
setiap hari Minggu, sehingga sangat cocok untuk berkampanye disana. Letaknya
yang berada di pusat kota, mengharuskan kami berangkat lebih awal dan sarapan
di dalam bus untuk menghemat waktu.
Sesampainya di dekat lokasi, kami
turun dari bus dan briefing sebentar untuk mengingatkan batas waktu,
tercapainya target dan pastinya kelancaran serta kenyamanan banyak orang. Pukul 07.15 WIB, masing-masing kelompok
beserta fasilitatornya sudah berpencar dan mulai mengkampanyekan sesuai apa
yang sudah didiskusikan di malam sebelum-sebelumnya (bagi yang tidak merubah
tema). Kelompok kami mengkampanyekan mengenai penggunaan gadget sesuai usia
anak. Karena menurut kelompok kami, saat ini anak-anak cenderung sibuk bermain
dengan gadget yang diberikan orangtua, ketimbang bermain bersama teman-teman,
bahkan cenderung banyak yang tak tahu permainan tradisional karena terlupakan
akibat perkembangan teknologi. Tentunya tema ini berkaitan dengan drama yang
kami tampilkan. Yang menjadi target adalah orangtua yang membawa anak dan/atau anak
yang terlihat bermain gadget. Kami mengumpulkan tanda tangan mereka di karton
yang kami bawa dengan tulisan ‘PETISI PEDULI ANAK’. Yang paling saya ingat
adalah momen ketika kami mendatangi keluarga lengkap dengan anaknya yang sibuk
bermain gadget. Alhasil, orangtua mereka meminta peserta memberitahu pada
anaknya karena anaknya termasuk susah dibilangi untuk mengurangi jam
sibukbersama gadget, hhehe. Si anak hanya senyum malu setelah mendengarkan
penjelasan dari kakak-kakak yang cantik dan ganteng ini *eaaa*. Ia bahkan bersedia
menandatangani petisi dan berjanji akan mengurangi intensitas bermain gadget. Ada
juga lho orangtua yang menolak mentah-mentah dan mengusir kami saat kami sedang
menjelaskan, hiks :’) Ga tau masalahnya apa, mungkin karena anaknya memang
sibuk bermain gadget dan ia merasa tersinggung sebagai orangtua, atau apalah
tak tahu. :’) Yup! Inilah hidup, nak! Ada yang pro dan bisa juga ada yang
kontra. (berlebih banget ga sih saya?) KAK! (Ketawa Amat Keras).
Meski kertas karton belum penuh, sekitar
pukul 08.15 WIB, kelompok kami kembali ke titik bubar tadi. Karena waktu
briefing sudah diingatkan untuk kumpul kembali di jam itu. Dan disana sudah ada
satu kelompok yang menyelesaikan kampanyenya. Saya lupa kelompok berapa, tapi
seingat saya kelompok ini mengumpulkan uang yang nantinya akan diberikan pada
panitia untuk diserahkan di malam Charity Concert. Baik banget ya :’)
![]() |
| Habibi, saya, kak Lani, dan yang nyempil di belakang adalah fotografer serta videografer acara, Kak Aji. |
Ohh iya, foto di atas adalah penampakan
hiasan kepala perempuan. (foto sendiri sekalian narsis) agak maksa, ya! Hhehe.
Gapapa deh daripda ga ada properti tambahan sama sekali :p niatnya sih biar
rame gituuu! Tapi mang rame kok, rame diliatin orang (mungkin akibat hiasan
kepala yang riweh ini. #PEDEABIS!)
![]() |
| Foto kelompok 4 sebelum memulai Youth Walk. Dari kiri : Reizki, Yasser, Laila, Ariza, Rina, Kak Lani, Rara (saya) dan Hardi. (dokumen pribadi) |
![]() |
| Eksis itu seperti keharusan! Wkwkwk (dokumen pribadi) |
Selesai foto disini, beberapa peserta merasa bangga dengan Kota Palembang yang mempunyai lokasi seperti Kambang Iwak ini, yang mampu mengumpulkan begitu banyak orang dengan berbagai aktivitas mulai dariperkumpulan komunitas-komunitas, jogging, senam bersama, olahraga (sepeda, badminton, dll), berdagang apa saja layaknya toserba yang tersebar di sekitar lokasi Kambang Iwak Family Park (KIF Park), atau sekadar jalan-jalan bersama teman dan keluarga.
![]() |
| Foto di akhir Youth Walk kelompok 4. Ariza bukannya sibuk sama gadgetnya kok. Dia hanya memainkan perannya sebagai maniak gadget :p |
Selesai dari acara youth walk, evaluasi hasilnya secara singkat, kemudian peserta ada yang mampir ke toko pakaian khas Palembang, ada yang berfoto-foto di sekitaran Kambang Iwak, dan sebagainya. Di beberapa kesempatan, kami sibuk berfoto ria. Hhe. Jadi yaa maafkan juga foto yang saya perlihatkan hanya foto yang ada di handphone saya karena belum sempat meminta foto pada panitia dokumentasi.
![]() |
| (sempetin) foto bareng Ibu Asrama, Erika, dan Reizki di toko oleh-oleh (dokumen pribadi) |
![]() |
| Bernarsis ria sembari menunggu rekan lain yang sibuk melihat-lihat dan juga belanja oleh-oleh pakaian. |
![]() |
| Ini foto di depan Museum SMB II sekalian untuk ambil foto dan video pakai Drone oleh Kak Aji! |
Sejak turun dari bus, peserta dari
luar Palembang seolah tersihir dan matanya berubah menjadi pempek. (sumpah yang
ini beneran lebay!) hheheh. Banyaknya toko kuliner Palembang ini menyebabkan
peserta terpisah. Eits, tapi tenang aja, karena fasilitator masing-masing ada
yang menjadi guide mereka, bahkan panitia yang lain pun ikut turun tangan
mengawal. Tentu saja sebelum berpisah-pisah, kami sepakat kembali ke bus pukul
12.00 WIB. Kebetulan saya dan Kak Lani yang tak terpisahkan ini mendampingi beberapa
peserta, yaitu ada Trio dari Medan, Yasser, Laila dan Anita, terus ada Habibi dan
Khairul dari Padang, Andi Hajar dari Palu juga tak ketinggalan ‘wong’ asli
Palembang, Hardi. Mereka yang kebingungan memilih menu akhirnya kami sarankan
memilih satu-satu jenis pempek, baik pempek yang kecil-kecil hingga pempek
kapal selam. Sebenarnya mereka ini mencari pempek lenggang, sayangnya tidak ada
toko yang menjualnya di daerah Pasar Sekanak ini. Selain macam-macam pempek, di
daerah ini juga bisa didapatkan kuliner lain seperti tekwan, model,
celimpungan, laksan, hingga kerupuk dan kemplang asli Palembang. Tak lupa, di
lokasi makan pempek pun, harus diabadikan. Wkwkwk
![]() |
| Inilah wajah-wajah pemangsa kuliner Palembang. Dari kiri ke kanan : Khairul, Habibi, Kak lani, Hardi, Rara (saya), Hajar, Laila, Anita dan Yasser. |
Bus kemudian bergerak menuju
Masjid Agung yang hanya ditempuh selama 5 menit dari Pasar Sekanak. Namanya
pusat dan salah satu ikon Kota Palembang, peserta tak menyia-nyiakan kesempatan
untuk mengabadikan foto di bundaran air mancur yang merupakan titik 0 km Kota
Palembang. Dari bundaran air mancur ini, beberapa spot bisa didapat, seperti Jembatan
Ampera, Masjid Agung hingga Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat). Tak hanya
peserta dari luar kota, panitia dan volunteers pun ikut foto-foto. Banyak yang
ngakunya orang asli Palembang, tapi ga pernah foto di atau dari air mancur ini,
“Malu dilihat orang. Nanti dikatain ‘dusun’. Soalnya kalo lagi lewat terus liat
orang yang foto disana, suka bilang gitu juga. Makanya mumpung lagi rame-rame
karena ada event seperti ini, sayang ga foto-foto juga.” Alasan lucu untuk malu
pada kota sendiri hhihi :3 Hayooo ngaku siapa yang pernah seperti ini di kota
sendiri??
Waktu sudah menunjukkan pukul
12.30 WIB. Tak mau membuang waktu, keasyikan peserta pun harus kami ganggu
karena mereka mampir kesini untuk sholat zuhur di Masjid Agung bagi yang
beragama Islam. Selesai sholat, mereka meminta tambahan waktu sebelum pulang ke
asrama. Mengingat cuaca siang yang terik, panitia tak tega memupuskan harapan
mereka, akhirnya peserta diberi tambahan waktu hingga pukul 13.30 WIB untuk
menikmati tempat bersejarah di Palembang. Panitia mengajak peserta menyebrang
ke Monpera untuk berfoto disana, bahkan ada yang ‘mampir’ ke ikon paling terkenal
Kota Palembang, yaitu jembatan Ampera. Salut! Panas terik tak menyurutkan
semangat mereka untuk mengabadikan diri dalam bentuk potret. Ada beberapa
peserta yang tak ikut serta karena mereka ngidam makan martabak HAR. Awalnya
panitia tak mengizinkan, namun saya menjamin mereka kembali ke bus tepat waktu.
Akhirnya, saya ditemani Hardi bersama dengan Laila, Yasser, Anita dan Yossi
menyebrang dari Masjid Agung menuju tempat yang memang sebenarnya ‘wajib’
dihampiri pendatang. Martabak HAR. Siapa yang tak kenal dengan namanya yang
sudah tersohor ini? Empat peserta yang bukan orang palembang ini bersyukur
sekali, karena Hardi kenal dengan orang yang bekerja di tempat ini dan
menceritakan kegiatan yang sedang diikuti ini, kami diberi martabak secara
GRATIS. Yah lumayan sebanding dengan tak ikut peserta lain ke Monpera, kata
mereka.
Teng teng teng! Time’s up! Sesuai
perjanjian, semua peserta balik ke bus. Raut bahagia terpancar dari semua peserta
yang tetap terlihat meski wajah mereka terbakar sengatan matahari itu. Tak
ayal, sepanjang perjalanan, sekali lagi, masing-masing peserta menyatakan
kekagumannya akan kota ini. Berbagai pertanyaan dan candaan pun kembali
menghiasi bus yang kami tumpangi. Semua sudah didapat, oleh-oleh, foto-foto di
destinasi wisata Palembang, hingga mencicipi kuliner khas Kota Palembang. Saya
yang bahkan tak ingat kapan terakhir tidur ini pun ikut senang karena bisa
memuaskan peserta yang berkunjung dan berpartisipasi di U-Gen Summit 2014 ini. Bravo!
FYI, bagi yang belum pernah ke
Palembang, bundaran air mancur, Masjid Agung, Monpera, Jembatan Ampera, Museum
SMB II, Monpera, BKB, Sungai Musi, martabak HAR dan Pasar Sekanak berada dalam
lingkup yang tak terlalu jauh, makanya jarak tempuh hanya berkisar 5 hingga 10
menit, seperti berputar-putar di satu area saja, hhehe.
Waktunya istirahat. Peserta akan
kembali berkumpul pukul 18.00 WIB untuk bersiap2 berangkat ke The Soul Cafe,
tempat akan digelarnya malam penutupan dan konser amal.
(edited)
Ohya, ada sedikit cuplikan hasil karya Kak Aji yang akan saya sisipkan di postingan kali ini. Video ini juga diputar di malam konser amal, lho! Banyak peserta yang berkomentar, "sayang banget kurang lama. Hihihi." Yakk, selama dua hari ini, diringkaslah menjadi bebebrapa menit seperti berikut ini. Selamat menonton!
Ini saya ambil dari youtube ibu asrama, Erika,karena di channel youtube saya ga mau terupload! Kapan-kapan saya coba lagi!
Saya juga mau istirahat dulu. Nanti
saya lanjutkan lagi (kalau ingat) wakakaka! Ceritanya masih lebih panjang dan lebih seru !





















