Senin, 29 Desember 2014

U-Gen Summit 2014 (LAST DAY)

(ini bakalan jadi cerita terpanjang!)

HARI KETIGA dimulai pukul 6.00 WIB. Peserta sudah berkumpul di lapangan sambil olahraga kecil dengan tema pakaian biru! Hampir setengah jam pemanasan, kami langsung memasuki bus untuk berangkat menuju Kambang Iwak, lokasi yang jadi tujuan youth walk, karena disana merupakan area car free day dan memang selalu ramai dikunjungi orang Palembang setiap hari Minggu, sehingga sangat cocok untuk berkampanye disana. Letaknya yang berada di pusat kota, mengharuskan kami berangkat lebih awal dan sarapan di dalam bus untuk menghemat waktu.

Sesampainya di dekat lokasi, kami turun dari bus dan briefing sebentar untuk mengingatkan batas waktu, tercapainya target dan pastinya kelancaran serta kenyamanan banyak orang.  Pukul 07.15 WIB, masing-masing kelompok beserta fasilitatornya sudah berpencar dan mulai mengkampanyekan sesuai apa yang sudah didiskusikan di malam sebelum-sebelumnya (bagi yang tidak merubah tema). Kelompok kami mengkampanyekan mengenai penggunaan gadget sesuai usia anak. Karena menurut kelompok kami, saat ini anak-anak cenderung sibuk bermain dengan gadget yang diberikan orangtua, ketimbang bermain bersama teman-teman, bahkan cenderung banyak yang tak tahu permainan tradisional karena terlupakan akibat perkembangan teknologi. Tentunya tema ini berkaitan dengan drama yang kami tampilkan. Yang menjadi target adalah orangtua yang membawa anak dan/atau anak yang terlihat bermain gadget. Kami mengumpulkan tanda tangan mereka di karton yang kami bawa dengan tulisan ‘PETISI PEDULI ANAK’. Yang paling saya ingat adalah momen ketika kami mendatangi keluarga lengkap dengan anaknya yang sibuk bermain gadget. Alhasil, orangtua mereka meminta peserta memberitahu pada anaknya karena anaknya termasuk susah dibilangi untuk mengurangi jam sibukbersama gadget, hhehe. Si anak hanya senyum malu setelah mendengarkan penjelasan dari kakak-kakak yang cantik dan ganteng ini *eaaa*. Ia bahkan bersedia menandatangani petisi dan berjanji akan mengurangi intensitas bermain gadget. Ada juga lho orangtua yang menolak mentah-mentah dan mengusir kami saat kami sedang menjelaskan, hiks :’) Ga tau masalahnya apa, mungkin karena anaknya memang sibuk bermain gadget dan ia merasa tersinggung sebagai orangtua, atau apalah tak tahu. :’) Yup! Inilah hidup, nak! Ada yang pro dan bisa juga ada yang kontra. (berlebih banget ga sih saya?) KAK! (Ketawa Amat Keras).

Meski kertas karton belum penuh, sekitar pukul 08.15 WIB, kelompok kami kembali ke titik bubar tadi. Karena waktu briefing sudah diingatkan untuk kumpul kembali di jam itu. Dan disana sudah ada satu kelompok yang menyelesaikan kampanyenya. Saya lupa kelompok berapa, tapi seingat saya kelompok ini mengumpulkan uang yang nantinya akan diberikan pada panitia untuk diserahkan di malam Charity Concert. Baik banget ya :’)
Habibi, saya, kak Lani, dan yang nyempil di belakang adalah fotografer serta  videografer acara, Kak Aji.

Ohh iya, foto di atas adalah penampakan hiasan kepala perempuan. (foto sendiri sekalian narsis) agak maksa, ya! Hhehe. Gapapa deh daripda ga ada properti tambahan sama sekali :p niatnya sih biar rame gituuu! Tapi mang rame kok, rame diliatin orang (mungkin akibat hiasan kepala yang riweh ini. #PEDEABIS!)

Foto kelompok 4 sebelum memulai Youth Walk.
Dari kiri : Reizki, Yasser, Laila, Ariza, Rina, Kak Lani, Rara (saya) dan Hardi.
(dokumen pribadi)
Eksis itu seperti keharusan! Wkwkwk
(dokumen pribadi)
Selesai foto disini, beberapa peserta merasa bangga dengan Kota Palembang yang mempunyai lokasi seperti Kambang Iwak ini, yang mampu mengumpulkan begitu banyak orang dengan berbagai aktivitas mulai dariperkumpulan komunitas-komunitas, jogging, senam bersama, olahraga (sepeda, badminton, dll), berdagang apa saja layaknya toserba yang tersebar di sekitar lokasi Kambang Iwak Family Park (KIF Park), atau sekadar jalan-jalan bersama teman dan keluarga.
 Foto di akhir Youth Walk kelompok 4.
Ariza bukannya sibuk sama gadgetnya kok. Dia hanya memainkan perannya sebagai maniak gadget :p 

Selesai dari acara youth walk, evaluasi hasilnya secara singkat, kemudian peserta ada yang mampir ke toko pakaian khas Palembang, ada yang berfoto-foto di sekitaran Kambang Iwak, dan sebagainya. Di beberapa kesempatan, kami sibuk berfoto ria. Hhe. Jadi yaa maafkan juga foto yang saya perlihatkan hanya foto yang ada di handphone saya karena belum sempat meminta foto pada panitia dokumentasi.
(sempetin) foto bareng Ibu Asrama, Erika, dan Reizki di toko oleh-oleh
(dokumen pribadi)

Bernarsis ria sembari menunggu rekan lain yang sibuk melihat-lihat dan juga belanja oleh-oleh pakaian.
Ini foto di depan Museum SMB II sekalian untuk ambil foto dan video pakai Drone oleh Kak Aji!
Dari KIF Park, butuh waktu 15 menit untuk kami bergerak ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II  (SMB II) dan berjalan kaki menuju Benteng Kuto Besak (BKB) yang terdapat juga pemandangan tenangnya aliran Sungai Musi. Tawaran untuk menuju Pulau Kemaro pun tak terelakkan, namun sayang kami tak punya banyak waktu untuk mengajak peserta ke tempat wisata tersebut. Setelah merasa cukup mengambil foto, tak butuh waktu yang lama kami berada di BKB, karena banyak peserta yang kepingin mencicipi wisata kuliner Palembang. Alhasil, peserta yang ingin naik ke jembatan Ampera tak dapat terwujud. Mereka harus puas berfoto dari pelataran BKB dengan background Ampera. Tepat pukul 11.00 WIB, bus kami meninggalkan BKB dan menuju salah satu daerah pusat wisata kuliner, yaitu Pasar Sekanak yang berjarak hanya 5 menit dari BKB.

Sejak turun dari bus, peserta dari luar Palembang seolah tersihir dan matanya berubah menjadi pempek. (sumpah yang ini beneran lebay!) hheheh. Banyaknya toko kuliner Palembang ini menyebabkan peserta terpisah. Eits, tapi tenang aja, karena fasilitator masing-masing ada yang menjadi guide mereka, bahkan panitia yang lain pun ikut turun tangan mengawal. Tentu saja sebelum berpisah-pisah, kami sepakat kembali ke bus pukul 12.00 WIB. Kebetulan saya dan Kak Lani yang tak terpisahkan ini mendampingi beberapa peserta, yaitu ada Trio dari Medan, Yasser, Laila dan Anita, terus ada Habibi dan Khairul dari Padang, Andi Hajar dari Palu juga tak ketinggalan ‘wong’ asli Palembang, Hardi. Mereka yang kebingungan memilih menu akhirnya kami sarankan memilih satu-satu jenis pempek, baik pempek yang kecil-kecil hingga pempek kapal selam. Sebenarnya mereka ini mencari pempek lenggang, sayangnya tidak ada toko yang menjualnya di daerah Pasar Sekanak ini. Selain macam-macam pempek, di daerah ini juga bisa didapatkan kuliner lain seperti tekwan, model, celimpungan, laksan, hingga kerupuk dan kemplang asli Palembang. Tak lupa, di lokasi makan pempek pun, harus diabadikan. Wkwkwk

Inilah wajah-wajah pemangsa kuliner Palembang.
Dari kiri ke kanan : Khairul, Habibi, Kak lani, Hardi, Rara (saya), Hajar, Laila, Anita dan Yasser.
Selesai wisata kuliner dan sesuai jam yang telah disepakati, akhirnya kami kembali ke bus. Ada-ada saja kelakuan peserta U-Gen Summit 2014 ini, beberapa peserta bukannya membawa pempek, malah membeli beberapa sisir pisang. Iya sih, Pasar Sekanak memang salah satu pusatnya segala macam pisang didagangkan! Katanya buat ngemil di bus. Belum jauh bus berjalan, ‘cemilan’ tadi udah dikeluarkan dari kantongnya. Lebih lucu sebenernya, yang ketawa-tawa karena kelakuan peserta tadi, ternyata ikutan makan pisang, lho! Tebak apa selanjutnya? Dalam sekejap, pisang yang dibeli ludes dalam hitingan detik. Hmm~ ternyata pada doyan pisang :D

Bus kemudian bergerak menuju Masjid Agung yang hanya ditempuh selama 5 menit dari Pasar Sekanak. Namanya pusat dan salah satu ikon Kota Palembang, peserta tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan foto di bundaran air mancur yang merupakan titik 0 km Kota Palembang. Dari bundaran air mancur ini, beberapa spot bisa didapat, seperti Jembatan Ampera, Masjid Agung hingga Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat). Tak hanya peserta dari luar kota, panitia dan volunteers pun ikut foto-foto. Banyak yang ngakunya orang asli Palembang, tapi ga pernah foto di atau dari air mancur ini, “Malu dilihat orang. Nanti dikatain ‘dusun’. Soalnya kalo lagi lewat terus liat orang yang foto disana, suka bilang gitu juga. Makanya mumpung lagi rame-rame karena ada event seperti ini, sayang ga foto-foto juga.” Alasan lucu untuk malu pada kota sendiri hhihi :3 Hayooo ngaku siapa yang pernah seperti ini di kota sendiri??

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Tak mau membuang waktu, keasyikan peserta pun harus kami ganggu karena mereka mampir kesini untuk sholat zuhur di Masjid Agung bagi yang beragama Islam. Selesai sholat, mereka meminta tambahan waktu sebelum pulang ke asrama. Mengingat cuaca siang yang terik, panitia tak tega memupuskan harapan mereka, akhirnya peserta diberi tambahan waktu hingga pukul 13.30 WIB untuk menikmati tempat bersejarah di Palembang. Panitia mengajak peserta menyebrang ke Monpera untuk berfoto disana, bahkan ada yang ‘mampir’ ke ikon paling terkenal Kota Palembang, yaitu jembatan Ampera. Salut! Panas terik tak menyurutkan semangat mereka untuk mengabadikan diri dalam bentuk potret. Ada beberapa peserta yang tak ikut serta karena mereka ngidam makan martabak HAR. Awalnya panitia tak mengizinkan, namun saya menjamin mereka kembali ke bus tepat waktu. Akhirnya, saya ditemani Hardi bersama dengan Laila, Yasser, Anita dan Yossi menyebrang dari Masjid Agung menuju tempat yang memang sebenarnya ‘wajib’ dihampiri pendatang. Martabak HAR. Siapa yang tak kenal dengan namanya yang sudah tersohor ini? Empat peserta yang bukan orang palembang ini bersyukur sekali, karena Hardi kenal dengan orang yang bekerja di tempat ini dan menceritakan kegiatan yang sedang diikuti ini, kami diberi martabak secara GRATIS. Yah lumayan sebanding dengan tak ikut peserta lain ke Monpera, kata mereka.

Teng teng teng! Time’s up! Sesuai perjanjian, semua peserta balik ke bus. Raut bahagia terpancar dari semua peserta yang tetap terlihat meski wajah mereka terbakar sengatan matahari itu. Tak ayal, sepanjang perjalanan, sekali lagi, masing-masing peserta menyatakan kekagumannya akan kota ini. Berbagai pertanyaan dan candaan pun kembali menghiasi bus yang kami tumpangi. Semua sudah didapat, oleh-oleh, foto-foto di destinasi wisata Palembang, hingga mencicipi kuliner khas Kota Palembang. Saya yang bahkan tak ingat kapan terakhir tidur ini pun ikut senang karena bisa memuaskan peserta yang berkunjung dan berpartisipasi di U-Gen Summit 2014 ini. Bravo!

FYI, bagi yang belum pernah ke Palembang, bundaran air mancur, Masjid Agung, Monpera, Jembatan Ampera, Museum SMB II, Monpera, BKB, Sungai Musi, martabak HAR dan Pasar Sekanak berada dalam lingkup yang tak terlalu jauh, makanya jarak tempuh hanya berkisar 5 hingga 10 menit, seperti berputar-putar di satu area saja, hhehe.

Waktunya istirahat. Peserta akan kembali berkumpul pukul 18.00 WIB untuk bersiap2 berangkat ke The Soul Cafe, tempat akan digelarnya malam penutupan dan konser amal.

(edited)
Ohya, ada sedikit cuplikan hasil karya Kak Aji yang akan saya sisipkan di postingan kali ini. Video ini juga diputar di malam konser amal, lho! Banyak peserta yang berkomentar, "sayang banget kurang lama. Hihihi." Yakk, selama dua hari ini, diringkaslah menjadi bebebrapa menit seperti berikut ini. Selamat menonton!
Ini saya ambil dari youtube ibu asrama, Erika,karena di channel youtube saya ga mau terupload! Kapan-kapan saya coba lagi!



Saya juga mau istirahat dulu. Nanti saya lanjutkan lagi (kalau ingat) wakakaka! Ceritanya masih lebih panjang dan lebih seru !

1 komentar:

  1. Keren banget!

    jangan lupa kunjungin blog saya yah!
    http://asiapoker.org

    BalasHapus

 
Cafe de Rahma15 Blogger Template by Ipietoon Blogger Template